Rabu, 14 Agustus 2013

(خَيْرُ النِسَاء) Sebaik-Baik Wanita..........

 Suatu saat ketika menanti waktu tiba adzan shalat, terdengarlah suara lantunan ayat-ayat suci Al-Qur`an dari sebuah masjid di kompleks rumah, pertanda bahwa adzan untuk shalat tinggal beberapa menit lagi. Ya memang seperti itulah kebiasaan di kompleks kami, dimana ta’mir masjid senantiasa menyetel murottal bacaan Al-Qur`an sebelum tibanya waktu shalat.  
      Mmmm tapi untuk kali itu, ada satu hal yang membuatnya jadi sedikit beda. Ya aku ingat, waktu itu mas ta’mir masjid memperdengarkan lantunan surat An-Nisa’, ya surat An-Nisa’. Ketika awal mendengarkan, wah terasa sejuk di hati mendengarkan lantutan firman Allah ta’ala, apalagi yang melantunkannya adalah Syaikh Abdullah Awwad Al Juhany –Hafizhahullah- terasa begitu merdu.... Hingga sampailah terdengar pada potongan ayat,,,,

"فَانكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ ..........."
“Maka nikahilah wanita-wanita yang kamu senangi…….”
(QS. An-Nisa’ 3)
            Kali itu ayat ini membuatku berpikir,
“Subhanallah, Allah memerintahkan kita untuk menikah dengan wanita yang kita senangi..…”,

Pikiran itu melintas begitu saja dalam hati ini… Kemudian adzan berkumandang memecahkan lamunanku karna potongan ayat itu……….. Walaupun hanya sepintas, tetapi hal ini membawa suatu makna yang begitu dalam bagiku,
“ya, suatu saat insya Allah aku kan menikah dengan wanita yang aku senangi”
            bukan hanya aku, tapi kita semua…. kita akan menikah dengan wanita yang kita senangi, Ma Thobalakum minan Nisa’. Dan ini menyangkut masa depan kita……
Tapi untuk ku……Pilihanku, dan harusnya pilihan kita semua……. Bukanlah NISA’ (نِسَاء) atau Wanita yang BIASA…..  Tapi Ia adalah SEBAIK-BAIK WANITA, ia adalah KHAIRUN NISA (خَيْرُ النِسَاء), ya, “Sebaik-baik Wanita”…………
Pilihlah ia, karena ia adalah “Khairunnissa”, ia adalah “Sebaik-baik Wanita”…… tentu aku yaqin, aku tak akan pernah menyesal “selamanya”, Ya “selamanya dunia dan akhirat”, jika yang aku pilih dan yang aku senangi adalah “Khairunnissa” ………..

            Dan siapakah ia “Khairunnisa” ? Ia adalah yang dicirikan oleh Manusia terbaik ummat ini, kekasih Allah,  Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam…….,,,
خير النساء التي
 تسره إذا نظر إليها
 و تطيعه اذا أمر
 ولا تخالفه في نفسها ولا مالها بما يكره
“ Sebaik-baik wanita (istri) adalah yang menyenangkan suami apabila ia memandangnya,
 mentaati apabila suami menyuruhnya,
dan tidak menyelisihi atas dirinya dan hartanya dengan apa yang tidak disukai suaminya.”
(HR. ath-Thabrani dari ‘Abdullah bin Salam)

Semoga kita semua menjadi laki-laki yang beruntung DUNIA AKHIRAT,
Dengan Mendapatkan KHAIRUNNISA,,,,,,
Karena ia adalah.,,,,
“Sebaik-Baik Wanita..........”

"رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
 "Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.
(QS. Al-Furqon: 74)
Amin, ya Robbal ‘Alamin…,

Rabu, 5 Syawal 1434
Suasana Malam Siak Nan Sejuk
Hanya dengan mengharap Ridho Allah…… Untuk masa depan Kita yang Lebih Baik

Vicca Oxy Abdul Aziz

Download PDF....disini

Minggu, 13 Januari 2013

Jaga Semangat Mu!!!!!!!

Berikut ini adalah Fatwa atau nasihat dari Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah untuk kita sabagai pelajar alias penuntut ilmu. Beliau menasihati kita agar kita selalu tetap berada di atas keadaan semangat dalam menuntut ilmu, terutama dan terlebih lagi terhadap ilmu agama (alias ilmu syar’i).

Asy-Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah ditanya: “Seorang terkena lemah semangat (futur) dari mencari ilmu, maka apa cara dan jalan yang bisa titempuh untuk mengatasi hal ini sehingga timbul semangat yang tinggi untuk menuntut ilmu?

Maka Asy-Syaikh rahimahullah menjawab:
            Lemah semangat dalam mencari ilmu syar’i adalah termasuk musibah besar, tentu ada perkara-perkara yang harus diperhatikan:
a.       Ikhlasnya niat untuk Allah ta’ala dalam mencari illmu, maka seseorang jika dia ikhlas dalam menuntut ilmu dan dia mengerti bahwa amalan itu akan menyampaikan dia kepada derajat ketiga dari derajat-derajat umat, maka dengan demikian semangatnya akan naik. (Allah ta’ala berfirman,)
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا (٦٩)
“Dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.”(An-Nisa’: 69)

b.      Hendaklah dia bergaul dengan teman-teman yang bisa mendorongnya kepada ilmu dan membantunya dalam membahas serta bedialog tentang ilmu. Hendaklah dia tidak bosan untuk bersahabat dengan mereka selama mereka bisa menolongnya di atas ilmu.

c.       Hendaklah dia menyabarkan jiwanya, dalam arti hendaklah dia memenjarakan/mengekang jiwanya ketika dia hendak lari. Allah subhanallahu wata’ala berfirman kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا (٢٨)
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28)

Maka hendaklah dia bersabar, jika dia bersabar dan membiasakan diri untuk mencari ilmu maka mencari ilmu akan menjadi tabiatnya. Hari yang tidak dia gunakan untuk mencari ilmu menjadi hari yang panjang (membosankan) beginya. Adapun dia melepaskan tali kekang jiwanya, maka jangan dia lakukan! Karena jiwa itu menyuruh kepada kejelekan dan syaithon mendorongnya untuk malas dan tidak belajar.

Sumber: “Kitab Al-Ilmi”, Karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.                        Gema Ilmu

اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَاتَعْجَزْ
“Bersungguh-sungguhlah mengupayakan apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu lemah”

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah



Fitnah dan Maksiat
Pertanyaan:
            Wahai Fadhilatusyaikh, hal-hal apa saja yang dapat mengobati permasalahan berikut ini, semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.
            Kami para pemuda ingin bertanya tentang hal-hal yang dapat menghindarkan kami dari fitnah dan maksiat yang tersebar pada saat ini?

Jawaban Syaikh:
            Tiada daya dan upaya kecuali dengan kehendak Allah Subhanallahu wata’ala.
Rasulullah Shalallahi ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahai para pemuda, barangsiapa yang sudah mampu menikah, maka menikahlah! Karena dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu maka berpuasalah, karena puasa dapat menjadi perisai.”
            Ini yang pertama, dan diantara sebab lainnya ialah menjauhkan diri untuk menyaksikan semua perkara yang bisa menimbulkan syahwat. Karena dia sebagai manusia, apabila melihat sesuatu yang menimbulkan syahwat melalui TV atau sebagaian majalah, maka hendaknya dia menjauhinya.
            Yang ketiga, jangan memikirkan perkara-perkara yang dapat menimbulkan syahwat, tapi hendaknya dia menjauhi semua hal itu dengan cara menelaah (membaca) beberapa dari buku-buku, atau pergi ketemannya dan lain sebagainya.
            Yang kelima adalah dengan adanya da’wah dari kalangan ahli ilmu, demikian pula dari para pemuda untuk meringankan beban nikah.
            (Syaikh bertanya) Berapa nilai mahar pertengahan pada kita? Berapa? (jawaban) SR 40.000,- (real saudi).
Bagi pemuda yang belum kerja dan orangtuanya tidak kaya, ini sulit sekali. Para Ulama, para Khotib dll, berpendapat untuk menyarankan kepada manusia agar meringankan nilai mahar. Dan supaya orang-orang kaya ikut berperan dalam hal membantu mereka yang kurang mampu.
            Saya akan ceritakan kepada kalian tentang seseorang yang mngundang saya dalam acara akad nikah anak wanitanya. Ketika selesai khutbah nikah yaitu “Innalhamdalillah nahmaduhu wanasta’inuhu....” sampai akhir, saya katakan kepada wali perempuan, “Nikahkanlah!”, dia berkata, “Saya nikahkan anda dengan anak perempuanku dengan mahar sebesar 1 real”. Kalian dengar ini semua tidak? Dengar tidak? (peserta menjawab) “dengar”. Saya katakan kepadanya, “ini keliru, karena mahar bukanlah yang sekarang tetapi yang telah anda kirimkan kepadanya berupa emas dan lain-lain.” Lalu ia bersumpah kepada saya, bahwa ia tidak akan mengambil kecuali hanya real ini saja, dan berkata, “Saya tidak menikahkan putriku dengan dirham/ uang, tetapi saya menikahkannya dengan seorang pemuda. Kalau ini sama haram, maka akan kunikahkan putriku tanpa sesuatu apapun.”
            Seperti yang dialami oleh lelaki ini, kita tidak mengira ada orang seperti dia. (semoga dapat menjadi pelajaran)

Wallahu a’lam bishowab...
Sumber: Video "لقاء مفتوح مع فضيلة الشيخ العلامة محمد بن صالح الغثيمين"

Keutamaan Tauhid



Kehidupan di dunia ini senantiasa berputar. Hari berganti hari, bulan demi bulan, satu tahun pun akhirnya berlalu tanpa kita sadari. Seiring berjalannya siang dan malam, saat itu pula ujian menimpa setiap manusia. Ya, kehidupan ini adalah ujian bagi kita, yang akan kita pertanggungjawabkan nanti di hadapan Allah ta’ala.
            Dalam menghadapi ujian, tak jarang seseorang melakukan kesalahan. Bisa karena kalah dengan nafsu, atau karena kerancuan berpikir yang menguasai. Akhirnya, orang tersebut pun bemaksiat dan berdosa kepada Allah. Semakin banyak salah dalam ujian, semakin banyak beban dosa yang dia pikul. Kemudian, dia pun datang kepada-Nya dengan berbagai dosa yang berujung kepada murka Allah dan siksa neraka-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari itu semua.
            Namun, Allah subhanallahu wata’ala adalah Rabb yang Maha Pengasih dan Penyayang terhadap hamba-Nya. Allah subhanallahu wata’ala memberikan kesempatan kepada kita untuk berusaha memperbaiki kesalahan dan merubahnya. Allah subhanallahu wata’ala buka pintu taubat dari segala dosa. Allah subhanallahu wata’ala pun menjadikan amalan kebajikan sebagai amalan penghapus kesalahan. Diharapkan dengan itu semua, kita kembali mengahadap-Nya dalam keadaan bersih dan bebas dari dosa.
Tauhid Pengahapus Dosa

            Selain sebagai pondasi agama seseorang, tauhid juga merupakan penghapus dosa. Penghapus dosa merupakan nikmat yang kelak sangat kita harapkan saat menghadapi hari hisab, selain kita juga berupaya agar tidak terjatuh dalam dosa.
            Ketuamaan tauhid sebagai penghapus dosa disebutkan dalam hadits qudsi:

يَا ابْنَ آدَمَ, إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا,ثُمَّ لَقِيْتَنِي لَاتُشْرِكُ بِي شَيْئًا, لأَتَيْتُكَ بِقُرابِهَا مَغْفِرَةً
            “Wahai anak Anak, sungguh seandainya engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, sedang engakau datang kepada-Ku tanpa menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun, Aku benar-benar akan datang dengan ampunan sebesar itu pula.” [H.R. At-Tirmidzi, dari sahabat Anas bin Malik radhoyallahu ‘anhu dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahih SunanAt-Tirmidzi].

            Dalam hadits ini, Allah subhanallahu wata’ala telah menjanjikan kepada anak Adam, bahwa Allah subhanallahu wata’ala akan mengampuni mereka apabila meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah subhanallahu wata’ala  dengan sesuatu pun. Hal ini menjadi dalil bahwa tauhid adalah sebab utama diampuninya dosa seseorang. Semakin sempurna tauhid seseorang, semakin jauh pula ia dari kesyirikan yang berarti ia akan semakin mempunyai peluang besar untuk mendapatkan ampunan Allah subhanallahu wata’ala. Maka, orang yang bertauhid adalah orang yang paling beruntung dengan ampunan dosa dari Allah. Sebaliknya, seorang musyrik yang mempersekutukan Allah dalam ibadah dan keyakinannya merupakan orang yang paling merugi, sebab pahalanya Allah subhanallahu wata’ala gugurkan walaupun dia adalah orang yang banyak berbuat baik.
Tuhid adalah Sebab Selamatnya Seorang Hamba dari Neraka
(bedakan dengan Tuhid adalah Sebab Selamanya Seorang Hamba dari Neraka)

            Kelak di akhirat, setiap manusia pasti akan dihadapkan pada dua kemungkinan. Jika bukan mendapat nikmat dari Allah subhanallahu wa ta’ala berupa surga-Nya, maka ia akan mendapatkan neraka. Tentu semua orang tidak ingin dirinya mendapat penderitaan siksa neraka. Tauhid adalah salah satu sebab utama selamatnya seseorang dari siksa neraka. Pada suatu ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu yang artinya, “Wahai Muadz apakah engkau tahu hak Allah atas hamba-Nya dan hak hamba atas Allah?” Mu’adz berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya hak Allah atas hamba-Nya adalah mereka beribadah kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Sedangkan hak hamba atas Allah adalah Allah tidak akan mengadzab seorang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” [H.R. Al Bukhari dan Muslim]. Dalam hadits ini Rasulullah memeberitahukan Mu’adz radhiyallahu ‘anhu bahwa Allah tidak akan mengadzab hamba-Nya jika mereka menunaikan hak Allah atas mereka. Hak Allah tersebut adalah dengan bertauhid kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Inilah salah satu faedah bertauhid kepada Allah subhanallahu wa ta’ala.

Tauhid adalah Sebab Masuk Surga Tanpa Hisab

            Masuk surga dan dijauhkan dari nerakan merupakan nikmat yang sangat besar. Nikmat ini akan lebih lengkap apabila kita masuk surga dengan tanpa melalui hisab. Betapa tidak? Pada saat dikumpulkannya manusia di padang Mahsyar, matahari hanya berjarak satu mil di atas kepala kita. Manusia semuanya merasa takut menghadapi hisab, lupa terhadap anak, istri, dan keluarga yang dicintainya.

            Nah, dengan tauhid yang sempurna, kita bisa memasuki surga tanpa hisab. Dalam hadits yang panjang, Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam melihat umat beliau, tujuh puluh ribu orang di antaranya masuk surga tanpa hisab dan adzab. Para shahabat bertanya siapakah mereka? Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta untuk diruqyah, tidak meminta untuk di-kay, dan tidak ber-tathayyur, serta hanya kepada Allah semata mereka bertawakal.”[H.R. Al Bukhari dari shahabat Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu].

            Dalam hadits di  atas Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memberitakan bahwa ada beberapa sifat yang akan menjadikan seseorang masuk surga tanpa hisab:
1.      Tidak meminta di-ruqyah. Ruqyah adalah bacaan-bacaan untuk mengobati penyakit, kadang berupa bacaan ayat-ayat Al-Qur`an atau doa-doa yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Ruqyah pada masa Jahiliyah sangat akrab dengan masyarakat, bahkan dianggap sebagai terapi yang manjur. Orang yang meminta ruqyah pun memiliki ketergantungan qalbu (hati-pen) terhadap yang me-ruqyah­. Dari sinilah tauhidnya menjadi tidak sempurna karena orang yang minta di-ruqyah memiliki semacam ketergantungan dan harapan kepada selain Allah. Maka jika kita perlu untuk di-ruqyah, hendaknya me-ruqyah sendiri dan tidak meminta untuk di-ruqyah-kan
2.      Tidak meminta kay. Kay adalah pengobatan penyakit dengan cara menempelkan besi panas pada bagian tubuh tertentu. Metode penyembuhan ini sangat efektif. Sehingga, muncullah kesan berobat dengan metode kay pasti sembuh. Orang yang sakit pun bergantung kepada kay dan lupa kepada penyembuh yang hakiki yaitu Allah subhanallahu wa ta’ala. Dengan demikian, tauhidnya menjadi tidak sempurna.
3.      Tidak ber-tahayyur. Tathayyur adalah anggapan sial terhadap benda, waktu, atau tempat tertentu, baik yang dilihat atau didengar. Tauhid seseorang yang melakukan tathayyur menjadi berkurang karena menganggap sesuatu sebagai sebab keberuntungan dan kesialan, padahal faktanya hal itu tidak memiliki hubungan dengan keberuntungan dan kesialan. Seolah-olah ia meyakini ada sesuatu yang memiliki pengaruh selain Allah subhanallahu wa ta’ala.
4.      Bertawakal hanya kepada Allah subhanallahu wa ta’ala.

Empat sifat ini bermuara kepada tawakal kepada Allah subhanallahu wa ta’ala saja. Ruqyah, kay, dan tathayyur adalah sebab berkurangnya tawakal seseorang kepada Allah. Padahal, tawakal merupakan salah satu perwujudan tauhid. Semakin kuat tauhid seseorang kepada Allah, semakin kuat pula tawakalnya kepada Allah. Orang-orang musyrikin pun merupakan orang yang sangat lemah tawakalnya kepada Allah sehingga menggantungkan hati mereka kepada selain Allah berupa jimat, berhala, dan lainnya. Nah, marilah kita perbaiki tauhid kita, kemudian berharap ampunan dosa, perlindungan dari neraka, dan masuk surga tanpa hisab. Wallah a’alam[hammam]

Sumber: Majalah Tashfiyah, vol. 01 Edisi 12, “Keutamaan Tauhid”, halaman 09-13.




           

Jumat, 23 November 2012

"Tanpa Suami"

Sebuah kisah nyata menyentuh hati........

Menikah, tentu saja hal yang membahagiakan. Tapi itu jika dengan orang yang kita cinta. Tapi tidak denganku. Aku harus belajar merasa bahagia menikah dan menerima seorang pria yang sama sekali tidak kucintai. Meski aku tahu ia mencintaiku. Secara fisik, ia memang berpoint delapan, tapi secara akhlak aku tak menyukainya. Inilah alasanku tak ingin menikah dengannya. Tubuhnya penuh tato dan akhlaknya jauh dari mulia. Ayah memaksaku menerimanya agar bapak tak kehilangan pekerjaan di tempat usaha suamiku. Dan demi menyelamatkan keluargaku. Ternyata, suamiku jauh dari sosok yang ku harapkan. Inginku dulu punya suami pintar ngaji, penyayang, kerja mapan. Tapi faktanya? Sholat tak pernah, kecuali saat pengantin baru. Selama menikah, aku sering menerima siksaan fisik juga kata-kata kotor. Aku sering sedih, namun aku mencoba sabar dan tetap memperlakukannya dengan baik. Kujalani tugasku sebagai istri meski dengan hati menangis dan berharap agar semua keadaan ini berubah.
Setahun kemudian aku hamil. Kuharap kehamilan ini akan mengubah sikapnya padaku. Ternyata ia tetap tempramental. Selama hamil pertama, tak pernah ia iba atau berbelas kasih meringankan pekerjaan rumah yang menumpuk. Mertuaku yang sibuk dengan bisnisnya tak pernah peduli dengan rumah tangga kami. Sedihnya lagi, jika aku minta pulang kerumah orangtua untuk melepas kangen, aku selalu diancam suami untuk diam tak bercerita. Awalnya aku bisa diam dengan harapan ia berubah. Tapi seiring sikapnya padaku, diam-diam tanpa setahunya aku bercerita pada ibu. Ibu menangis nelangsa. Tapi ia menasihatiku untuk tetap baik dan bersabar. “Itu surgamu, anakku....”. kupeluk ibu, kucium kakinya. Aku pulang sore itu dengan kekuatan baru.
Nyaris selama awal kehamilan, aku mual dan muntah. Badan lemas dan gemetar sering menderaku. Bahkan tubuhku sering dingin menggigil. Tapi suamiku tak mau tahu. Untuk kebidan atau puskesmas aku paling pergi sendiri. Jika aku ingin sesuatu aku mencarinya sendiri dari hasil berjualan makanan kecil dan es yang aku titipkan di warung-warung. Hasilnya kusimpan sedikit demi sedikit. Uang itulah yang kupakai membeli segala kebutuhanku selama hamil, juga daster maupun persiapan baju-baju bayi.
Pernah suatu kali, aku terpeleset di kamar mandi karena tak sengaja menginjak sikat lantai. Bukannya menolong, suami malah memarahiku habis-habisan. Aku hanya menangis kesakitan. Ibu mertuaku hanya sejenak menolongku, kemudian menyarankan untuk periksa kebidan. Hanya sebatas itu, sebab aku harus periksa sendiri! Alhamdulillah kandungan yang kala itu berusia enam bulan baik-baik saja.
Aku lalui hari-hari panjang menanti kelahiran buah hati ku seorang diri. Aku sebenarnya ingin berada bersama ibuku. Saat-saat begini aku ingin menghempaskan beban batin dalam pelukannya. Ingin berbagi rasa bersama saudara-saudaraku. Setidaknya aku bisa menghibur diri diantara mereka. Sebenarnya, aku takut jika semua beban jiwa yang kupendam ini berpengaruh pada janinku. Untuk menghindari tumpukan beban batin aku selalu menyibukkan waktu luangku dengan tadarus Al Qur`an atau membawanya shalat. Namun jujur beban itu tak sepenuhnya lepas.
Mendekati kelahiran buah hatiku, aku meminta suami untuk tidak sering begadang keluar rumah. Aku takut juka tiba-tiba aku merasa akan melahirkan sementara tak ada yang mengantarku ke bidan. Namun jawaban apa yang kuterima? Ia justru mengataiku manja, cari parhatian dan segunung omelan panjang pendek. Ya Allah betapa sakitnya hatiku. Selama ini aku berusaha selalu bersikap baik dan berbakti padanya tapi ia justru memperlakukanku sebaliknya.
Akhirnya aku melahirkan seorang diri tanpa ditunggui suami, bu bidan sampai kasihan melihatku. Beruntung perutku mulas saat siang hari, jam sibuk, saat orang rumah semua beraktivitas diluar. Hanya aku seorang diri. Kutanyakan suamiku ke tetangga kiri-kanan tak ada yang tahu, jadilah aku ke bidan naik becak seorang diri. Sepanjang jalan, aku ingin menangis tapi sekuat mungkin kutahan.
Alhamdulillah, anakku lahir selamat ditunggu oleh ibu dan bapak juga adik-adikku. Bu bidan yang mengabari mereka dengan menyuruh orang. Mereka yang membantuku bergantian. Bayi kecil itu kini sudah kelas II SD, tumbuh tanpa kasih sayang bapaknya. Bahkan, suamiku pernah dua tahun tak pulang tanpa kabar. Aku pulang ke rumah orang tuaku. Sebenarnya, kala itu banyak yang ingin melamarku. Tapi kutolak. Benar saja, suatu hari suamiku tiba-tiba muncul di rumah. Tanpa dosa mengajakku pulang kerumahnya. Ternyata ia tak berubah. Hingga kumiliki tiga anak, tak satupun yang lahir ditunggui bapaknya. Sebenarnya aku ingin lari dari semua ini bila tak ingat Allah. Setidaknya, Allah selalu memberiku kekuatan melalui semua ini, juga kesehatan untukku, anak-anakku, orang tuaku yang selalu menyayangiku serta adik-adikku.
Semoga Allah menjadikan anak-anakku pribadi yang shalih dan berbakti dan tak seperti bapaknya. Aku berjuang semampuku, menjaga dan mendidik mereka agar terjaga akhlak dan sikap mereka lahir batin. Menjauhkan hal-hal buruk dari mereka, agar kelak mereka tak salah langkah.(***)

Oleh: Vicca bin ‘Adi 
Referensi: Majalah Sakinah, Volume 11, No. 4