Selasa, 23 Oktober 2012

Menjadi Sehat dengan Mencontoh Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam (Bag. 1)

“Konsep Sehat Menurut Islam”
Oleh: Vicca Oxy Abu Abdil Aziz Lumajang

Alhamdulillah, segala puji dan syukur bagi Allah yang memberi setiap hamba-Nya kenikmatan yang tiada terbilang. Dan di antara nikmat yang diberikan-Nya, adalah nikmat sehat yang merupakan nikmat terbesar dalam kehidupan kita di dunia, dan nikmat Islam sebagai kenikmatan teragung bagi kehidupan kita di akhirat.

Berbicara mengenai kesehatan, Islam sebagai agama yang sempurna telah mengatur banyak tentangnya. Kesehatan merupakan salah satu nikmat Allah yang harus kita syukuri. Dalam Islam kesehatan mendapatkan perhatian yang begitu penting. Karena dengan sehat manusia dapat beraktivitas dan beribadah. Inilah salah satu dari tujuan Islam, menjaga kesehatan manusia baik kesehatan jiwa, akal maupun jasmani.

Imam Al-Syathibi rahimahullah dalam kitabnya ‘Fi Ushul Al-Ahkam’ mengatakan: “Tujuan kehadiran agama Islam dalam rangka menjaga agama, jiwa, akal, jasmani, harta dan keturunan. Setiap usaha dalam rangka memenuhi lima hal tersebut, walaupun tidak disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunah, dapat dibenarkan dalam ajaran Islam.”
Guna melaksanakan lima tujuan Islam tersebut, kesehatan memegang peranan penting. Tanpa adanya kondisi sehat dalam badan, berbagai upaya untuk memenuhi kewajiban pokok akan sulit dilaksanakan. Oleh karena itu, Islam menekankan pentingnya kesehatan. Dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa kesehatan merupakan modal pokok dan utama dalam mencapai tujuan agama. Tujuan Islam mengajarkan hidup sehat adalah dalam rangka menciptakan individu dan masyarakat yang sehat jasmani, rohani dan sosial sehingga umat Islam mampu menjadi umat pilihan.

Apa itu sehat? Sehat menurut World Health Organization (WHO) adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Menurut Islam, seseorang dikatakan sehat apabila memenuhi tiga unsur. Yaitu kesehatan jasmani (nafs), Kesehatan ruhani (ruh), dan Kesehatan sosial. Kesehatan jasmani merupakan bentuk dari keseimbangan manusia dan alam. Kesehatan ruhani maknanya ada keseimbangan dan hubungan yang baik secara spiritual antara khaliq (pencipta) dan makhluk, yang diwujudkan dari aktivitas makhluk dalam memenuhi semua perintah Khaliq. Kesehatan sosial adalah kesehatan dalam wujud keharmonisan antara sebuah individu dengan individu lain maupun dengan sistem yang berlaku di masyarakat. Bila ketiga unsur ini terpenuhi maka akan tercipta sebuah keadaan yang sempurna, baik secara fisik, mental, maupun spiritual.

    Dalam pengertian yang paling luas, sehat merupakan suatu keadaan yang dinamis sehingga individu menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan internal (psikologis, intelektual, spriritual dan penyakit) dan eksternal (lingkungan fisik, sosial, dan ekonomi) dalam mempertahankan kesehatannya.

     ‘Ala kulli hal, semua aspek untuk menuju sehat telah ada dan diatur Islam. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam juga telah memberikan tekhnis meraih dan menjaga kesehatan, baik sehat dalam pengertian jasadiah, ruhaniah, fikriah maupun sehat dalam makna yang lebih luas, seperti sehat ekonomi dan sosial.

     Sejarah telah mengungkapkan bahwa masa hidup Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam merupakan masa yang sangat mulia. Beliau tidak pernah mengalami sakit, kecuali sakit karena faktor eksternal. Pola hidup yang beliau praktekkan mengajarkan kaum muslimin agar mengikuti sunnah beliau. Pada kenyataannya, apa yang beliau kerjakan dalam kesehariannya, kini telah diakui oleh ilmu pengetahuan modern melalui berbagai penelitian ilmiah. 

   Maka dari itu dalam tulisan ini selanjutnya insya Allah kita akan mengungkap, mengapa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah sakit? Bagaimana pola hidup Beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam keseharian, sehingga mampu menjadikan beliau sebagai pribadi yang sehat dan tidak mengenal sakit? Dan bagaimana seharusnya upaya kaum muslimin di masa kini dalam menjaga kesehatannya? Nantikan posting dari tulisan kami selanjutnya. Wallahu a’lam.

Bersambung Insya Allah....
Sumber : Disarikan dari Buku “Mengapa Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam Tidak Gampang Sakit”, karya Al-Ustadz Asadullah Al-Faruq Hafizhohullah



“أحب الناس إلى الله  أنفعهم للناس”
“Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain”