Sebuah kisah nyata
menyentuh hati........
Menikah, tentu saja hal yang membahagiakan. Tapi
itu jika dengan orang yang kita cinta. Tapi tidak denganku. Aku harus belajar
merasa bahagia menikah dan menerima seorang pria yang sama sekali tidak
kucintai. Meski aku tahu ia mencintaiku. Secara fisik, ia memang berpoint
delapan, tapi secara akhlak aku tak menyukainya. Inilah alasanku tak ingin
menikah dengannya. Tubuhnya penuh tato dan akhlaknya jauh dari mulia. Ayah
memaksaku menerimanya agar bapak tak kehilangan pekerjaan di tempat usaha
suamiku. Dan demi menyelamatkan keluargaku. Ternyata, suamiku jauh dari sosok
yang ku harapkan. Inginku dulu punya suami pintar ngaji, penyayang, kerja
mapan. Tapi faktanya? Sholat tak pernah, kecuali saat pengantin baru. Selama
menikah, aku sering menerima siksaan fisik juga kata-kata kotor. Aku sering
sedih, namun aku mencoba sabar dan tetap memperlakukannya dengan baik. Kujalani
tugasku sebagai istri meski dengan hati menangis dan berharap agar semua
keadaan ini berubah.
Setahun kemudian aku hamil. Kuharap kehamilan ini
akan mengubah sikapnya padaku. Ternyata ia tetap tempramental. Selama hamil
pertama, tak pernah ia iba atau berbelas kasih meringankan pekerjaan rumah yang
menumpuk. Mertuaku yang sibuk dengan bisnisnya tak pernah peduli dengan rumah
tangga kami. Sedihnya lagi, jika aku minta pulang kerumah orangtua untuk
melepas kangen, aku selalu diancam suami untuk diam tak bercerita. Awalnya aku
bisa diam dengan harapan ia berubah. Tapi seiring sikapnya padaku, diam-diam
tanpa setahunya aku bercerita pada ibu. Ibu menangis nelangsa. Tapi ia
menasihatiku untuk tetap baik dan bersabar. “Itu surgamu, anakku....”.
kupeluk ibu, kucium kakinya. Aku pulang sore itu dengan kekuatan baru.
Nyaris selama awal kehamilan, aku mual dan muntah.
Badan lemas dan gemetar sering menderaku. Bahkan tubuhku sering dingin
menggigil. Tapi suamiku tak mau tahu. Untuk kebidan atau puskesmas aku paling
pergi sendiri. Jika aku ingin sesuatu aku mencarinya sendiri dari hasil
berjualan makanan kecil dan es yang aku titipkan di warung-warung. Hasilnya
kusimpan sedikit demi sedikit. Uang itulah yang kupakai membeli segala
kebutuhanku selama hamil, juga daster maupun persiapan baju-baju bayi.
Pernah suatu kali, aku terpeleset di kamar mandi
karena tak sengaja menginjak sikat lantai. Bukannya menolong, suami malah
memarahiku habis-habisan. Aku hanya menangis kesakitan. Ibu mertuaku hanya
sejenak menolongku, kemudian menyarankan untuk periksa kebidan. Hanya sebatas
itu, sebab aku harus periksa sendiri! Alhamdulillah kandungan yang kala
itu berusia enam bulan baik-baik saja.
Aku lalui hari-hari panjang menanti kelahiran buah
hati ku seorang diri. Aku sebenarnya ingin berada bersama ibuku. Saat-saat
begini aku ingin menghempaskan beban batin dalam pelukannya. Ingin berbagi rasa
bersama saudara-saudaraku. Setidaknya aku bisa menghibur diri diantara mereka.
Sebenarnya, aku takut jika semua beban jiwa yang kupendam ini berpengaruh pada
janinku. Untuk menghindari tumpukan beban batin aku selalu menyibukkan waktu
luangku dengan tadarus Al Qur`an atau membawanya shalat. Namun jujur beban itu
tak sepenuhnya lepas.
Mendekati kelahiran buah hatiku, aku meminta suami
untuk tidak sering begadang keluar rumah. Aku takut juka tiba-tiba aku merasa
akan melahirkan sementara tak ada yang mengantarku ke bidan. Namun jawaban apa
yang kuterima? Ia justru mengataiku manja, cari parhatian dan segunung omelan
panjang pendek. Ya Allah betapa sakitnya hatiku. Selama ini aku berusaha selalu
bersikap baik dan berbakti padanya tapi ia justru memperlakukanku sebaliknya.
Akhirnya aku melahirkan seorang diri tanpa
ditunggui suami, bu bidan sampai kasihan melihatku. Beruntung perutku mulas
saat siang hari, jam sibuk, saat orang rumah semua beraktivitas diluar. Hanya
aku seorang diri. Kutanyakan suamiku ke tetangga kiri-kanan tak ada yang tahu,
jadilah aku ke bidan naik becak seorang diri. Sepanjang jalan, aku ingin
menangis tapi sekuat mungkin kutahan.
Alhamdulillah, anakku lahir selamat ditunggu oleh ibu dan bapak juga adik-adikku. Bu bidan
yang mengabari mereka dengan menyuruh orang. Mereka yang membantuku bergantian.
Bayi kecil itu kini sudah kelas II SD, tumbuh tanpa kasih sayang bapaknya.
Bahkan, suamiku pernah dua tahun tak pulang tanpa kabar. Aku pulang ke rumah
orang tuaku. Sebenarnya, kala itu banyak yang ingin melamarku. Tapi kutolak.
Benar saja, suatu hari suamiku tiba-tiba muncul di rumah. Tanpa dosa mengajakku
pulang kerumahnya. Ternyata ia tak berubah. Hingga kumiliki tiga anak, tak
satupun yang lahir ditunggui bapaknya. Sebenarnya aku ingin lari dari semua ini
bila tak ingat Allah. Setidaknya, Allah selalu memberiku kekuatan melalui semua
ini, juga kesehatan untukku, anak-anakku, orang tuaku yang selalu menyayangiku
serta adik-adikku.
Semoga Allah menjadikan anak-anakku pribadi yang
shalih dan berbakti dan tak seperti bapaknya. Aku berjuang semampuku, menjaga
dan mendidik mereka agar terjaga akhlak dan sikap mereka lahir batin.
Menjauhkan hal-hal buruk dari mereka, agar kelak mereka tak salah langkah.(***)
Oleh: Vicca bin ‘Adi
Referensi: Majalah Sakinah, Volume 11, No. 4

