Jumat, 23 November 2012

"Tanpa Suami"

Sebuah kisah nyata menyentuh hati........

Menikah, tentu saja hal yang membahagiakan. Tapi itu jika dengan orang yang kita cinta. Tapi tidak denganku. Aku harus belajar merasa bahagia menikah dan menerima seorang pria yang sama sekali tidak kucintai. Meski aku tahu ia mencintaiku. Secara fisik, ia memang berpoint delapan, tapi secara akhlak aku tak menyukainya. Inilah alasanku tak ingin menikah dengannya. Tubuhnya penuh tato dan akhlaknya jauh dari mulia. Ayah memaksaku menerimanya agar bapak tak kehilangan pekerjaan di tempat usaha suamiku. Dan demi menyelamatkan keluargaku. Ternyata, suamiku jauh dari sosok yang ku harapkan. Inginku dulu punya suami pintar ngaji, penyayang, kerja mapan. Tapi faktanya? Sholat tak pernah, kecuali saat pengantin baru. Selama menikah, aku sering menerima siksaan fisik juga kata-kata kotor. Aku sering sedih, namun aku mencoba sabar dan tetap memperlakukannya dengan baik. Kujalani tugasku sebagai istri meski dengan hati menangis dan berharap agar semua keadaan ini berubah.
Setahun kemudian aku hamil. Kuharap kehamilan ini akan mengubah sikapnya padaku. Ternyata ia tetap tempramental. Selama hamil pertama, tak pernah ia iba atau berbelas kasih meringankan pekerjaan rumah yang menumpuk. Mertuaku yang sibuk dengan bisnisnya tak pernah peduli dengan rumah tangga kami. Sedihnya lagi, jika aku minta pulang kerumah orangtua untuk melepas kangen, aku selalu diancam suami untuk diam tak bercerita. Awalnya aku bisa diam dengan harapan ia berubah. Tapi seiring sikapnya padaku, diam-diam tanpa setahunya aku bercerita pada ibu. Ibu menangis nelangsa. Tapi ia menasihatiku untuk tetap baik dan bersabar. “Itu surgamu, anakku....”. kupeluk ibu, kucium kakinya. Aku pulang sore itu dengan kekuatan baru.
Nyaris selama awal kehamilan, aku mual dan muntah. Badan lemas dan gemetar sering menderaku. Bahkan tubuhku sering dingin menggigil. Tapi suamiku tak mau tahu. Untuk kebidan atau puskesmas aku paling pergi sendiri. Jika aku ingin sesuatu aku mencarinya sendiri dari hasil berjualan makanan kecil dan es yang aku titipkan di warung-warung. Hasilnya kusimpan sedikit demi sedikit. Uang itulah yang kupakai membeli segala kebutuhanku selama hamil, juga daster maupun persiapan baju-baju bayi.
Pernah suatu kali, aku terpeleset di kamar mandi karena tak sengaja menginjak sikat lantai. Bukannya menolong, suami malah memarahiku habis-habisan. Aku hanya menangis kesakitan. Ibu mertuaku hanya sejenak menolongku, kemudian menyarankan untuk periksa kebidan. Hanya sebatas itu, sebab aku harus periksa sendiri! Alhamdulillah kandungan yang kala itu berusia enam bulan baik-baik saja.
Aku lalui hari-hari panjang menanti kelahiran buah hati ku seorang diri. Aku sebenarnya ingin berada bersama ibuku. Saat-saat begini aku ingin menghempaskan beban batin dalam pelukannya. Ingin berbagi rasa bersama saudara-saudaraku. Setidaknya aku bisa menghibur diri diantara mereka. Sebenarnya, aku takut jika semua beban jiwa yang kupendam ini berpengaruh pada janinku. Untuk menghindari tumpukan beban batin aku selalu menyibukkan waktu luangku dengan tadarus Al Qur`an atau membawanya shalat. Namun jujur beban itu tak sepenuhnya lepas.
Mendekati kelahiran buah hatiku, aku meminta suami untuk tidak sering begadang keluar rumah. Aku takut juka tiba-tiba aku merasa akan melahirkan sementara tak ada yang mengantarku ke bidan. Namun jawaban apa yang kuterima? Ia justru mengataiku manja, cari parhatian dan segunung omelan panjang pendek. Ya Allah betapa sakitnya hatiku. Selama ini aku berusaha selalu bersikap baik dan berbakti padanya tapi ia justru memperlakukanku sebaliknya.
Akhirnya aku melahirkan seorang diri tanpa ditunggui suami, bu bidan sampai kasihan melihatku. Beruntung perutku mulas saat siang hari, jam sibuk, saat orang rumah semua beraktivitas diluar. Hanya aku seorang diri. Kutanyakan suamiku ke tetangga kiri-kanan tak ada yang tahu, jadilah aku ke bidan naik becak seorang diri. Sepanjang jalan, aku ingin menangis tapi sekuat mungkin kutahan.
Alhamdulillah, anakku lahir selamat ditunggu oleh ibu dan bapak juga adik-adikku. Bu bidan yang mengabari mereka dengan menyuruh orang. Mereka yang membantuku bergantian. Bayi kecil itu kini sudah kelas II SD, tumbuh tanpa kasih sayang bapaknya. Bahkan, suamiku pernah dua tahun tak pulang tanpa kabar. Aku pulang ke rumah orang tuaku. Sebenarnya, kala itu banyak yang ingin melamarku. Tapi kutolak. Benar saja, suatu hari suamiku tiba-tiba muncul di rumah. Tanpa dosa mengajakku pulang kerumahnya. Ternyata ia tak berubah. Hingga kumiliki tiga anak, tak satupun yang lahir ditunggui bapaknya. Sebenarnya aku ingin lari dari semua ini bila tak ingat Allah. Setidaknya, Allah selalu memberiku kekuatan melalui semua ini, juga kesehatan untukku, anak-anakku, orang tuaku yang selalu menyayangiku serta adik-adikku.
Semoga Allah menjadikan anak-anakku pribadi yang shalih dan berbakti dan tak seperti bapaknya. Aku berjuang semampuku, menjaga dan mendidik mereka agar terjaga akhlak dan sikap mereka lahir batin. Menjauhkan hal-hal buruk dari mereka, agar kelak mereka tak salah langkah.(***)

Oleh: Vicca bin ‘Adi 
Referensi: Majalah Sakinah, Volume 11, No. 4

Jumat, 09 November 2012

Kisah Para Pemuda yang Tidak Tergoda Rayuan Maut Wanita

Godaaan wanita memang nomor satu beratnya bagi laki-laki, di mana pun tempatnya dan kapan pun waktunya. Awalnya memang dari hal kecil, yakni pandangan. Mmengumbar pandangan bagai secangkir arak (tuak, minuman keras) dan ‘isyq (cinta) adalah rasa mabuk akibat minuman tersebut. Sementara, mabuk karena ‘isyq lebih hebat daripada mabuk karena khamr. Sebab, orang mabuk karena minuman keras mungkin akan sadar, tetapi mabuk karena ‘isyq amat jarang menjadi sadar kecuali ketika dia di ambang kematian.

Kisah Pemuda ‘Atha’ bin Yasar rahimahullahu

Pernah pula di kalangan tabi’in yang mengalami ujian seperti ini. ‘Atha’ bin Yasar, saudara Sulaiman bin Yasar. Dalam riwayat hidup beliau, diceritakan:
Suatu hari dia berangkat dari Madinah bersama saudaranya Sulaiman dan beberapa sahabat mereka. Kemudian mereka singgah di Abwa’ dan membuat kemah. Di daerah itu ada seorang wanita badui yang cantik jelita yang ingin menimbulkan fitnah pada ‘Atha’ bin Yasar. Maka masuklah wanita itu ke dalam tenda di saat ‘Atha’ tinggal sendirian. Ketika itu beliau sedang shalat, maka beliau pun mempercepatnya karena mengira wanita itu sedang dalam keperluan.

Setelah itu beliau bertanya kepada wanita itu: “Engkau ada keperluan?”
“Ya,” kata wanita itu.
“Apa itu?”tanya ‘Atha’.
“Bangun dan gauli saya. Saya tidak bersuami,” jawab wanita itu.
“Pergilah dari sini. Jangan kau bakar aku dan dirimu dengan api neraka,” kata ‘Atha’. Lalu mulailah beliau menangis sampai tersedu-sedu.
Melihat ‘Atha’ menangis, wanita itu tersentuh, lalu ikut pula menangis mendengar nasihat yang diucapkan ‘Atha’ tadi. Akhirnya wanita itu pun duduk menangis. Dua orang laki-laki dan perempuan itu menangis hebat. Kemudian datanglah Sulaiman bin Yasar dan melihat dua orang ini sedang menangis. Dia tidak tahu apa yang tadi terjadi. Tapi jiwanya ikut terdorong untuk menangis menyaksikan keadaan mereka berdua. Tak lama datang pula sahabat mereka lalu masuk ke dalam tenda. Mereka melihat ada seorang wanita menangis bersama ‘Atha’ dan Sulaiman yang juga menangis. Mereka pun terpengaruh, lalu ikut menangis tanpa tahu ada kejadian apa sebelum ini.
Akhirnya, semua terduduk sambil menangis tersedu-sedu. Setelah tenang, wanita itu bangkit dan pergi. Kemudian yang lain pun berdiri dan beranjak dari tempat itu. Semuanya pergi ke tempat tidurnya. Sementara Sulaiman merasa segan bertanya kepada saudaranya ada yang terjadi?
Hari-hari berlalu. Suatu ketika mereka safar ke Mesir. Pada malam harinya, di sebuah kamar, ‘Atha’ terbangun sambil menangis. Mendengar isak tangis saudaranya, Sulaiman tergugah dari tidurnya. Beliau bertanya kepada ‘Atha’: “Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai saudaraku?
Tangis ‘Atha’ semakin keras. Sulaiman kembali bertanya: “Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai saudaraku?”
“Mimpi yang baru saja kulihat malam ini,” kata ‘Atha’.
“Mimpi apa?” tanya Sulaiman. Lalu beliau terus mendesak agar ‘Atha’ menceritakannya. Maka ‘Atha’ meminta kesepakatan dan janji saudaranya untuk tidak menceritakannya selama dia masih hidup.
Kata ‘Atha’: “Aku melihat Nabi Yusuf dalam mimpiku. Mulailah aku memandang beliau. Ketika aku melihat eloknya rupa beliau, aku menangis –dalam mimpi–. Beliau pun memandangku dan berkata: ‘Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai fulan?’
Aku berkata: ‘Demi bapak dan ibuku tebusanmu, wahai Nabi Allah. Aku teringat engkau dan istri pembesar itu serta ujian yang engkau alami dengannya. Penjara yang engkau rasakan, perpisahanmu dengan Nabi Ya’qub, maka aku pun menangis karenanya’.”
Aku merasa takjub kepada beliau.
Beliau pun berkata: ‘Akulah yang mestinya takjub dengan lawan wanita badui di Abwa’ itu?’ Aku tahu apa yang beliau maksud, maka aku pun menangis dan terbangun sambil terus menangis. Kemudian ‘Atha’ rahimahullahu menceritakan pula kisahnya dengan wanita badui di Abwa.
Kisah ini disimpan oleh Sulaiman bin Yasar sampai ‘Atha’ meninggal dunia. Setelah ‘Atha’ meninggal dunia, dia pun menceritakan kisah ini hingga menjadi terkenal di Madinah.
Sulaiman bin Yasar sendiri adalah seorang yang gagah dan rupawan. Suatu hari, seorang wanita masuk ke dalam rumahnya dan merayunya agar menggauli dirinya. Tapi Sulaiman menolak. Wanita itu berkata kepadanya: “Kalau begitu aku akan mempermalukanmu.”
Akhirnya, Sulaiman melarikan diri keluar dari rumahnya, dia biarkan rumah itu untuk si wanita.

Kisah Abu Bakr Al-Miski rahimahullahu

Lain lagi dengan Abu Bakr Al-Miski. Dia digelari Al-Miski (berbau misik/minyak wangi) karena sebuah kejadian. Ada seorang wanita meminta agar Abu Bakr masuk ke dalam rumahnya. Abu Bakr adalah seorang pedagang. Maka beliau pun masuk. Ternyata wanita itu menginginkan perbuatan yang haram. Untuk itu, dia (wanita tersebut) tutup pintu rumahnya. Lalu apa yang dilakukan Abu Bakr?
Dia bekata: “Saya ingin ke kamar kecil.” Kemudian di dalam kamar mandi (WC) dia melaburi tubuhnya dengan kotoran dan keluar dari kamar mandi. Wanita itu menjauh darinya lalu membuka pintu rumahnya, akhirnya Abu Bakr pun keluar meninggalkan wanita itu. Sejak saat itulah tubuhnya berbau misik (meskipun tidak menggunakan minyak wangi). Wallahu a’lam.
Yang terakhir, jatuh cinta karena semata rupa yang elok termasuk hal-hal yang disebabkan oleh unsur kesyirikan. Semakin jauh seseorang dari keikhlasan, semakin dekat kepada kesyirikan, maka cintanya kepada rupa yang elok semakin kuat. Semakin kuat tauhid dan keikhlasan seseorang semakin jauh dia dari godaan rupa yang elok. Kenyataan inilah yang menjerumuskan istri pembesar kepada apa yang diceritakan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu syirik yang ada padanya. Sedangkan Nabi Yusuf q selamat dari perbuatan tersebut karena keikhlasannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ
“Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (Yusuf: 24)
Kata السُّوءَ (kemungkaran) di sini bermakna al-’isyq (cinta) sedangkan الْفَحْشَاءَ (kekejian) adalah perbuatan zina. Orang yang mukhlash ialah orang yang memurnikan cintanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala pun membersihkannya dari fitnah ‘isyq terhadap rupa. Dan orang yang musyrik, hatinya terpaut kepada sesuatu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak membersihkan tauhid dan cintanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahul Muwaffiq.
(Sumber: asysyariah.com)

Menjadi Sehat dengan Mencontoh Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam (Bag. 2)

Pada artikel bagian pertama telah kita ketahui bagaimana “Konsep Sehat Menurut Islam”, disana disebutkan secara gamblang dan jelas bahwa Islam sangat perhatian terhadap yang namanya kesehatan kita sebagai manusia. Dimana kami kutip kembali perkataan Imam Asy-Syathibi rahimahullah, “Tujuan kehadiran agama Islam dalam rangka menjaga agama, jiwa, akal, jasmani, harta dan keturunan. Setiap usaha dalam rangka memenuhi lima hal tersebut, walaupun tidak disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, dapat dibenarkan dalam ajaran Islam.”
Kemudian yang akan kami sampaikan dalam artikel bagian kedua kali ini adalah sebagai inti dari pembahasan kita, yaitu “Menjadi Sehat dengan Mencontoh Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam”.

Pernahkah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam Sakit?
Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam, selain sebagai seorang nabi dan rasul Allah, beliau juga menyandang sebagai seorang manusia. Artinya, antara satu manusia dengan lainnya adalah sama, yaitu sama-sama sebagai makhluk yang lemah, tidak kebal terhadap penyakit, dan sangat memungkinkan merasakan sakit. Begitulah seharusnya, sebuah sunnatullah yang umum ada pada diri setiap manusia.
Membuka kembali lembaran sejarah kehidupan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam akan membuat kita menemukan sebuah fakta yang luar biasa. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam seorang manusia yang dalam perjalanan hidupnya hampir tidak pernah sakit. Atau dengan kata lain beliau selalu dalam keadaan sehat.
Bila mau diungkapkan secara tepat, sejarah mengemukakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam setidaknya pernah tiga kali mengalami sakit. Sakit yang dialami beliau bukan karena kecerobohan atau kelalaian beliau dalam menjaga kesehatan, tetapi dikarenakan faktor eksternal yang menjadi penyebabnya.
Ketiga peristiwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah mengalami sakit adalah:
1.      Disihir oleh seorang laki-laki Yahudi bernama Labid bin A’sham. Beliau disihir menggunakan media gigi sihir, rambut dan kulit pelepah kurma. Efek dari sihir ini adalah beliau merasa telah makan, minum dan mendatangi istrinya, padahal semua itu belum dilakukannya.
2.      Diracun wanita Yahudi bernama Zainab binti Harits. Wanita itu membubuhkan racun Labithi pada daging kambing yang hendak disajikan untuk Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat Radhiyallahu ‘anhum. Racun bekerja selama empat tahun dengan efek berupa urat nadi terasa putus, sakit kepala, batuk dan panas. Namun demikian, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mampu menahannya dan berbagai macam aktivitas yang dilakukan beliau tidak terganggu oleh racun tersebut.
3.      Rasa sakit lainnya yang pernah dialami Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah terluka karena berperang. Banyak peperangan yang dikuti oleh beliau di masa hidupnya dan menghadirkan tidak sedikit luka di tubuh beliau. Dan perlu pahami bahwa luka juga merupakan bagian dari sakit.

Ketiga peristiwa sakit tersebut membuktikan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memang benar-benar sebagai seorang manusia biasa, sehingga berlaku sunnatullah bahwa manusia dapat merasakan sakit. Begitulah Rasulullah, sebagai manusia, beliau juga pernah merasakan sakit.
Bukan Karena Kesalahan Pribadi
            Sakit yang pernah dialami oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, bila kita menganalisanya, sebuah kesimpulan dapat dihadirkan. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengalami sakit, baik itu disihir, diracuni atau luka-luka akibat berperang adalah dikarenakan faktor eksternal. Faktor dari luar pribadi beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam. Dengan kata lain, sakit yang dialami beliau bukan karena kecerobohan diri beliau dalam menjaga kesehatan.
            Para ahli sejarah dan penulis Sirah Nabawiyah menulikan bahwa perjalanan hidup Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam selalu dijalani dalam keadaan sehat. Tidak ada perilaku atau kebiasaan buruk beliau yang bersifat jelek yang kemudian hari mengakibatkan beliau terjangkiti suatu penyakit tertentu.
            Tidak pernah sekalipun kita dengar seorang ahli sejarah menyebutkan bahwa Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam menderita sakit diare berhari-hari karena salah makan. Atau tidak dikemukakan di dalam Sirah Nabawiyah yang menyatakan beliau sakit karena alasan tertentu yang berasal dari diri beliau sendiri.
            Inilah yang membedakan antara Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan manusia pada umumnya. Beliau memang pernah sakit, tetapi sakitnya dikarenakan faktor eksternal, bukan faktor internal dari dalam dirinya. Sebaliknya, bagi manusia secara umum, meraka sakit disebabkan diri mereka sendiri. Mereka tidak bisa menjaga pola hidup sehat. Di antaranya adalah dengan suka makan berlebih-lebihan, makan dan minum sesuatu yang haram, malas berolahraga, suka begadang berlebihan, dan lainnya.
Cara Hemat untuk Sehat
            Pada masa sekarang ini, orang-orang yang ingin sehat rela mengeluarkan begitu banyak uang. Mereka mengusahakan kesehatan dengan berbagai macam cara, mulai sesuatu yang bersifat pencegahan hingga menghadirkan saranan yang bersifat pengobatan. Ada diantaranya yang membeli dan mengkonsumsi suplemen kesehatan, multivitamin atau sekedar minuman kesehatan tradisional. Ada pula yang memilih untuk membeli alat-alat kesehatan, sehingga dapat dipergunakannya di rumah. Sebagian lainnya rutin melakukan fitnes, bergabung dalam klub senam, atau mengikuti berbagai macam terapi kesehatan.
            Jalan atau cara berbeda, namun tujuannya sama, yaitu ingin merasakan kesehatan di sepannjang hidupnya. Mereka rela merogoh koceknya dalam-dalam untuk mewujudkan tujuan tersebut. Bagi mereka, kesehatan adalah nomor satu. Jika terpaksa “harus dibeli”, mereka membelinya.
            Tak mengherankan jika ada yang berkata, “Sehat itu mahal”. Ada benarnya pernyataan itu, meskipun nilai kebenarannya tidak bersifat mutlak. Lantas, adakah cara menjadi sehat dengan biaya yang super hemat? Jawabannya, ada. Percayalah!
            Cara menjadi sehat dengan biaya yang super hemat adalah dengan mencontoh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Ya, contohlah kehidupan beliau. Bagaimanakah pola makan, pola tidur, aktivitas sehari-hari, dan sebaginya. Hanya dengan mencontoh beliau, tidak perlu mengeluarkan banyak biaya, tetapi cukup mempraktekkan apa yang kita contoh dari beliau dalam kehidupan sehari-hari, niscaya kita akan mampu menjadi pribadi yang sehat sepanjang hayat. Insya Allah.
Sumber : Disarikan dari Buku “Mengapa Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam Tidak Gampang Sakit”, karya Al-Ustadz Asadullah Al-Faruq Hafizhohullah