Godaaan wanita memang nomor satu beratnya bagi laki-laki, di mana pun
tempatnya dan kapan pun waktunya. Awalnya memang dari hal kecil, yakni
pandangan. Mmengumbar pandangan bagai secangkir arak (tuak, minuman keras) dan
‘isyq (cinta) adalah rasa mabuk akibat minuman tersebut. Sementara, mabuk
karena ‘isyq lebih hebat daripada mabuk karena khamr. Sebab, orang mabuk karena
minuman keras mungkin akan sadar, tetapi mabuk karena ‘isyq amat jarang menjadi
sadar kecuali ketika dia di ambang kematian.
Kisah Pemuda ‘Atha’ bin Yasar rahimahullahu
Pernah pula di kalangan tabi’in yang mengalami ujian seperti ini. ‘Atha’
bin Yasar, saudara Sulaiman bin Yasar. Dalam riwayat hidup beliau, diceritakan:
Suatu hari dia berangkat dari Madinah bersama saudaranya Sulaiman dan beberapa sahabat mereka. Kemudian mereka singgah di Abwa’ dan membuat kemah. Di daerah itu ada seorang wanita badui yang cantik jelita yang ingin menimbulkan fitnah pada ‘Atha’ bin Yasar. Maka masuklah wanita itu ke dalam tenda di saat ‘Atha’ tinggal sendirian. Ketika itu beliau sedang shalat, maka beliau pun mempercepatnya karena mengira wanita itu sedang dalam keperluan.
Suatu hari dia berangkat dari Madinah bersama saudaranya Sulaiman dan beberapa sahabat mereka. Kemudian mereka singgah di Abwa’ dan membuat kemah. Di daerah itu ada seorang wanita badui yang cantik jelita yang ingin menimbulkan fitnah pada ‘Atha’ bin Yasar. Maka masuklah wanita itu ke dalam tenda di saat ‘Atha’ tinggal sendirian. Ketika itu beliau sedang shalat, maka beliau pun mempercepatnya karena mengira wanita itu sedang dalam keperluan.
Setelah itu beliau bertanya kepada wanita itu: “Engkau ada keperluan?”
“Ya,” kata wanita itu.
“Apa itu?”tanya ‘Atha’.
“Bangun dan gauli saya. Saya tidak bersuami,” jawab wanita itu.
“Pergilah dari sini. Jangan kau bakar aku dan dirimu dengan api neraka,” kata ‘Atha’. Lalu mulailah beliau menangis sampai tersedu-sedu.
“Ya,” kata wanita itu.
“Apa itu?”tanya ‘Atha’.
“Bangun dan gauli saya. Saya tidak bersuami,” jawab wanita itu.
“Pergilah dari sini. Jangan kau bakar aku dan dirimu dengan api neraka,” kata ‘Atha’. Lalu mulailah beliau menangis sampai tersedu-sedu.
Melihat ‘Atha’ menangis, wanita itu tersentuh, lalu ikut pula menangis
mendengar nasihat yang diucapkan ‘Atha’ tadi. Akhirnya wanita itu pun duduk
menangis. Dua orang laki-laki dan perempuan itu menangis hebat. Kemudian
datanglah Sulaiman bin Yasar dan melihat dua orang ini sedang menangis. Dia
tidak tahu apa yang tadi terjadi. Tapi jiwanya ikut terdorong untuk menangis
menyaksikan keadaan mereka berdua. Tak lama datang pula sahabat mereka lalu
masuk ke dalam tenda. Mereka melihat ada seorang wanita menangis bersama ‘Atha’
dan Sulaiman yang juga menangis. Mereka pun terpengaruh, lalu ikut menangis
tanpa tahu ada kejadian apa sebelum ini.
Akhirnya, semua terduduk sambil menangis tersedu-sedu. Setelah tenang, wanita itu bangkit dan pergi. Kemudian yang lain pun berdiri dan beranjak dari tempat itu. Semuanya pergi ke tempat tidurnya. Sementara Sulaiman merasa segan bertanya kepada saudaranya ada yang terjadi?
Akhirnya, semua terduduk sambil menangis tersedu-sedu. Setelah tenang, wanita itu bangkit dan pergi. Kemudian yang lain pun berdiri dan beranjak dari tempat itu. Semuanya pergi ke tempat tidurnya. Sementara Sulaiman merasa segan bertanya kepada saudaranya ada yang terjadi?
Hari-hari berlalu. Suatu ketika mereka safar ke Mesir. Pada malam harinya,
di sebuah kamar, ‘Atha’ terbangun sambil menangis. Mendengar isak tangis
saudaranya, Sulaiman tergugah dari tidurnya. Beliau bertanya kepada ‘Atha’:
“Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai saudaraku?
Tangis ‘Atha’ semakin keras. Sulaiman kembali bertanya: “Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai saudaraku?”
“Mimpi yang baru saja kulihat malam ini,” kata ‘Atha’.
“Mimpi apa?” tanya Sulaiman. Lalu beliau terus mendesak agar ‘Atha’ menceritakannya. Maka ‘Atha’ meminta kesepakatan dan janji saudaranya untuk tidak menceritakannya selama dia masih hidup.
Kata ‘Atha’: “Aku melihat Nabi Yusuf dalam mimpiku. Mulailah aku memandang beliau. Ketika aku melihat eloknya rupa beliau, aku menangis –dalam mimpi–. Beliau pun memandangku dan berkata: ‘Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai fulan?’
Aku berkata: ‘Demi bapak dan ibuku tebusanmu, wahai Nabi Allah. Aku teringat engkau dan istri pembesar itu serta ujian yang engkau alami dengannya. Penjara yang engkau rasakan, perpisahanmu dengan Nabi Ya’qub, maka aku pun menangis karenanya’.”
Aku merasa takjub kepada beliau.
Tangis ‘Atha’ semakin keras. Sulaiman kembali bertanya: “Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai saudaraku?”
“Mimpi yang baru saja kulihat malam ini,” kata ‘Atha’.
“Mimpi apa?” tanya Sulaiman. Lalu beliau terus mendesak agar ‘Atha’ menceritakannya. Maka ‘Atha’ meminta kesepakatan dan janji saudaranya untuk tidak menceritakannya selama dia masih hidup.
Kata ‘Atha’: “Aku melihat Nabi Yusuf dalam mimpiku. Mulailah aku memandang beliau. Ketika aku melihat eloknya rupa beliau, aku menangis –dalam mimpi–. Beliau pun memandangku dan berkata: ‘Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai fulan?’
Aku berkata: ‘Demi bapak dan ibuku tebusanmu, wahai Nabi Allah. Aku teringat engkau dan istri pembesar itu serta ujian yang engkau alami dengannya. Penjara yang engkau rasakan, perpisahanmu dengan Nabi Ya’qub, maka aku pun menangis karenanya’.”
Aku merasa takjub kepada beliau.
Beliau pun berkata: ‘Akulah yang mestinya takjub dengan lawan wanita badui
di Abwa’ itu?’ Aku tahu apa yang beliau maksud, maka aku pun menangis dan
terbangun sambil terus menangis. Kemudian ‘Atha’ rahimahullahu menceritakan
pula kisahnya dengan wanita badui di Abwa.
Kisah ini disimpan oleh Sulaiman bin Yasar sampai ‘Atha’ meninggal dunia.
Setelah ‘Atha’ meninggal dunia, dia pun menceritakan kisah ini hingga menjadi
terkenal di Madinah.
Sulaiman bin Yasar sendiri adalah seorang yang gagah dan rupawan. Suatu
hari, seorang wanita masuk ke dalam rumahnya dan merayunya agar menggauli
dirinya. Tapi Sulaiman menolak. Wanita itu berkata kepadanya: “Kalau begitu aku
akan mempermalukanmu.”
Akhirnya, Sulaiman melarikan diri keluar dari rumahnya, dia biarkan rumah
itu untuk si wanita.
Kisah Abu Bakr Al-Miski rahimahullahu
Lain lagi dengan Abu Bakr Al-Miski. Dia digelari Al-Miski (berbau
misik/minyak wangi) karena sebuah kejadian. Ada seorang wanita meminta agar Abu
Bakr masuk ke dalam rumahnya. Abu Bakr adalah seorang pedagang. Maka beliau pun
masuk. Ternyata wanita itu menginginkan perbuatan yang haram. Untuk itu, dia
(wanita tersebut) tutup pintu rumahnya. Lalu apa yang dilakukan Abu Bakr?
Dia bekata: “Saya ingin ke kamar kecil.” Kemudian di dalam kamar mandi (WC)
dia melaburi tubuhnya dengan kotoran dan keluar dari kamar mandi. Wanita itu
menjauh darinya lalu membuka pintu rumahnya, akhirnya Abu Bakr pun keluar
meninggalkan wanita itu. Sejak saat itulah tubuhnya berbau misik (meskipun
tidak menggunakan minyak wangi). Wallahu a’lam.
Yang terakhir,
jatuh cinta karena semata rupa yang elok termasuk hal-hal yang disebabkan oleh
unsur kesyirikan. Semakin jauh seseorang dari keikhlasan, semakin dekat kepada
kesyirikan, maka cintanya kepada rupa yang elok semakin kuat. Semakin kuat tauhid
dan keikhlasan seseorang semakin jauh dia dari godaan rupa yang elok. Kenyataan
inilah yang menjerumuskan istri pembesar kepada apa yang diceritakan Allah
Subhanahu wa Ta’ala, yaitu syirik yang ada padanya. Sedangkan Nabi Yusuf q
selamat dari perbuatan tersebut karena keikhlasannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ
عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ
“Demikianlah, agar
Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk
hamba-hamba Kami yang terpilih.” (Yusuf: 24)
Kata السُّوءَ (kemungkaran) di sini bermakna al-’isyq (cinta)
sedangkan الْفَحْشَاءَ (kekejian) adalah perbuatan
zina. Orang yang mukhlash ialah orang yang memurnikan cintanya karena Allah
Subhanahu wa Ta’ala, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala pun membersihkannya
dari fitnah ‘isyq terhadap rupa. Dan orang yang musyrik, hatinya terpaut kepada
sesuatu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak membersihkan tauhid dan
cintanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahul Muwaffiq.
(Sumber: asysyariah.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar