Jumat, 09 November 2012

Menjadi Sehat dengan Mencontoh Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam (Bag. 2)

Pada artikel bagian pertama telah kita ketahui bagaimana “Konsep Sehat Menurut Islam”, disana disebutkan secara gamblang dan jelas bahwa Islam sangat perhatian terhadap yang namanya kesehatan kita sebagai manusia. Dimana kami kutip kembali perkataan Imam Asy-Syathibi rahimahullah, “Tujuan kehadiran agama Islam dalam rangka menjaga agama, jiwa, akal, jasmani, harta dan keturunan. Setiap usaha dalam rangka memenuhi lima hal tersebut, walaupun tidak disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, dapat dibenarkan dalam ajaran Islam.”
Kemudian yang akan kami sampaikan dalam artikel bagian kedua kali ini adalah sebagai inti dari pembahasan kita, yaitu “Menjadi Sehat dengan Mencontoh Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam”.

Pernahkah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam Sakit?
Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam, selain sebagai seorang nabi dan rasul Allah, beliau juga menyandang sebagai seorang manusia. Artinya, antara satu manusia dengan lainnya adalah sama, yaitu sama-sama sebagai makhluk yang lemah, tidak kebal terhadap penyakit, dan sangat memungkinkan merasakan sakit. Begitulah seharusnya, sebuah sunnatullah yang umum ada pada diri setiap manusia.
Membuka kembali lembaran sejarah kehidupan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam akan membuat kita menemukan sebuah fakta yang luar biasa. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam seorang manusia yang dalam perjalanan hidupnya hampir tidak pernah sakit. Atau dengan kata lain beliau selalu dalam keadaan sehat.
Bila mau diungkapkan secara tepat, sejarah mengemukakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam setidaknya pernah tiga kali mengalami sakit. Sakit yang dialami beliau bukan karena kecerobohan atau kelalaian beliau dalam menjaga kesehatan, tetapi dikarenakan faktor eksternal yang menjadi penyebabnya.
Ketiga peristiwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah mengalami sakit adalah:
1.      Disihir oleh seorang laki-laki Yahudi bernama Labid bin A’sham. Beliau disihir menggunakan media gigi sihir, rambut dan kulit pelepah kurma. Efek dari sihir ini adalah beliau merasa telah makan, minum dan mendatangi istrinya, padahal semua itu belum dilakukannya.
2.      Diracun wanita Yahudi bernama Zainab binti Harits. Wanita itu membubuhkan racun Labithi pada daging kambing yang hendak disajikan untuk Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat Radhiyallahu ‘anhum. Racun bekerja selama empat tahun dengan efek berupa urat nadi terasa putus, sakit kepala, batuk dan panas. Namun demikian, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mampu menahannya dan berbagai macam aktivitas yang dilakukan beliau tidak terganggu oleh racun tersebut.
3.      Rasa sakit lainnya yang pernah dialami Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah terluka karena berperang. Banyak peperangan yang dikuti oleh beliau di masa hidupnya dan menghadirkan tidak sedikit luka di tubuh beliau. Dan perlu pahami bahwa luka juga merupakan bagian dari sakit.

Ketiga peristiwa sakit tersebut membuktikan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memang benar-benar sebagai seorang manusia biasa, sehingga berlaku sunnatullah bahwa manusia dapat merasakan sakit. Begitulah Rasulullah, sebagai manusia, beliau juga pernah merasakan sakit.
Bukan Karena Kesalahan Pribadi
            Sakit yang pernah dialami oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, bila kita menganalisanya, sebuah kesimpulan dapat dihadirkan. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengalami sakit, baik itu disihir, diracuni atau luka-luka akibat berperang adalah dikarenakan faktor eksternal. Faktor dari luar pribadi beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam. Dengan kata lain, sakit yang dialami beliau bukan karena kecerobohan diri beliau dalam menjaga kesehatan.
            Para ahli sejarah dan penulis Sirah Nabawiyah menulikan bahwa perjalanan hidup Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam selalu dijalani dalam keadaan sehat. Tidak ada perilaku atau kebiasaan buruk beliau yang bersifat jelek yang kemudian hari mengakibatkan beliau terjangkiti suatu penyakit tertentu.
            Tidak pernah sekalipun kita dengar seorang ahli sejarah menyebutkan bahwa Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam menderita sakit diare berhari-hari karena salah makan. Atau tidak dikemukakan di dalam Sirah Nabawiyah yang menyatakan beliau sakit karena alasan tertentu yang berasal dari diri beliau sendiri.
            Inilah yang membedakan antara Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan manusia pada umumnya. Beliau memang pernah sakit, tetapi sakitnya dikarenakan faktor eksternal, bukan faktor internal dari dalam dirinya. Sebaliknya, bagi manusia secara umum, meraka sakit disebabkan diri mereka sendiri. Mereka tidak bisa menjaga pola hidup sehat. Di antaranya adalah dengan suka makan berlebih-lebihan, makan dan minum sesuatu yang haram, malas berolahraga, suka begadang berlebihan, dan lainnya.
Cara Hemat untuk Sehat
            Pada masa sekarang ini, orang-orang yang ingin sehat rela mengeluarkan begitu banyak uang. Mereka mengusahakan kesehatan dengan berbagai macam cara, mulai sesuatu yang bersifat pencegahan hingga menghadirkan saranan yang bersifat pengobatan. Ada diantaranya yang membeli dan mengkonsumsi suplemen kesehatan, multivitamin atau sekedar minuman kesehatan tradisional. Ada pula yang memilih untuk membeli alat-alat kesehatan, sehingga dapat dipergunakannya di rumah. Sebagian lainnya rutin melakukan fitnes, bergabung dalam klub senam, atau mengikuti berbagai macam terapi kesehatan.
            Jalan atau cara berbeda, namun tujuannya sama, yaitu ingin merasakan kesehatan di sepannjang hidupnya. Mereka rela merogoh koceknya dalam-dalam untuk mewujudkan tujuan tersebut. Bagi mereka, kesehatan adalah nomor satu. Jika terpaksa “harus dibeli”, mereka membelinya.
            Tak mengherankan jika ada yang berkata, “Sehat itu mahal”. Ada benarnya pernyataan itu, meskipun nilai kebenarannya tidak bersifat mutlak. Lantas, adakah cara menjadi sehat dengan biaya yang super hemat? Jawabannya, ada. Percayalah!
            Cara menjadi sehat dengan biaya yang super hemat adalah dengan mencontoh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Ya, contohlah kehidupan beliau. Bagaimanakah pola makan, pola tidur, aktivitas sehari-hari, dan sebaginya. Hanya dengan mencontoh beliau, tidak perlu mengeluarkan banyak biaya, tetapi cukup mempraktekkan apa yang kita contoh dari beliau dalam kehidupan sehari-hari, niscaya kita akan mampu menjadi pribadi yang sehat sepanjang hayat. Insya Allah.
Sumber : Disarikan dari Buku “Mengapa Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam Tidak Gampang Sakit”, karya Al-Ustadz Asadullah Al-Faruq Hafizhohullah       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar