Pada artikel
bagian pertama telah kita ketahui bagaimana “Konsep Sehat Menurut Islam”,
disana disebutkan secara gamblang dan jelas bahwa Islam sangat perhatian
terhadap yang namanya kesehatan kita sebagai manusia. Dimana kami kutip kembali
perkataan Imam Asy-Syathibi rahimahullah, “Tujuan kehadiran agama Islam
dalam rangka menjaga agama, jiwa, akal, jasmani, harta dan keturunan. Setiap
usaha dalam rangka memenuhi lima hal tersebut, walaupun tidak disebutkan dalam
Al-Qur’an dan As-Sunnah, dapat dibenarkan dalam ajaran Islam.”
Kemudian yang
akan kami sampaikan dalam artikel bagian kedua kali ini adalah sebagai inti
dari pembahasan kita, yaitu “Menjadi Sehat dengan Mencontoh Nabi Shalallahu
‘alaihi wasallam”.
Pernahkah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi
wasallam Sakit?
Muhammad Shalallahu
‘alaihi wasallam, selain sebagai seorang nabi dan rasul Allah, beliau juga
menyandang sebagai seorang manusia. Artinya, antara satu manusia dengan lainnya
adalah sama, yaitu sama-sama sebagai makhluk yang lemah, tidak kebal terhadap
penyakit, dan sangat memungkinkan merasakan sakit. Begitulah seharusnya, sebuah
sunnatullah yang umum ada pada diri setiap manusia.
Membuka
kembali lembaran sejarah kehidupan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam
akan membuat kita menemukan sebuah fakta yang luar biasa. Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wasallam seorang manusia yang dalam perjalanan hidupnya hampir
tidak pernah sakit. Atau dengan kata lain beliau selalu dalam keadaan sehat.
Bila mau
diungkapkan secara tepat, sejarah mengemukakan bahwa Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wasallam setidaknya pernah tiga kali mengalami sakit. Sakit yang
dialami beliau bukan karena kecerobohan atau kelalaian beliau dalam menjaga
kesehatan, tetapi dikarenakan faktor eksternal yang menjadi penyebabnya.
Ketiga
peristiwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah mengalami sakit
adalah:
1. Disihir oleh seorang laki-laki Yahudi
bernama Labid bin A’sham. Beliau disihir menggunakan media gigi sihir, rambut
dan kulit pelepah kurma. Efek dari sihir ini adalah beliau merasa telah makan,
minum dan mendatangi istrinya, padahal semua itu belum dilakukannya.
2. Diracun wanita Yahudi bernama Zainab binti
Harits. Wanita itu membubuhkan racun Labithi pada daging kambing yang hendak
disajikan untuk Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat Radhiyallahu
‘anhum. Racun bekerja selama empat tahun dengan efek berupa urat nadi
terasa putus, sakit kepala, batuk dan panas. Namun demikian, Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wasallam mampu menahannya dan berbagai macam aktivitas yang
dilakukan beliau tidak terganggu oleh racun tersebut.
3. Rasa sakit lainnya yang pernah dialami
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah terluka karena berperang.
Banyak peperangan yang dikuti oleh beliau di masa hidupnya dan menghadirkan
tidak sedikit luka di tubuh beliau. Dan perlu pahami bahwa luka juga merupakan
bagian dari sakit.
Ketiga peristiwa sakit tersebut membuktikan bahwa Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wasallam memang benar-benar sebagai seorang manusia biasa, sehingga
berlaku sunnatullah bahwa manusia dapat merasakan sakit. Begitulah Rasulullah,
sebagai manusia, beliau juga pernah merasakan sakit.
Bukan Karena Kesalahan
Pribadi
Sakit yang pernah dialami oleh Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wasallam, bila kita menganalisanya, sebuah kesimpulan dapat
dihadirkan. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengalami sakit, baik
itu disihir, diracuni atau luka-luka akibat berperang adalah dikarenakan faktor
eksternal. Faktor dari luar pribadi beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam.
Dengan kata lain, sakit yang dialami beliau bukan karena kecerobohan diri
beliau dalam menjaga kesehatan.
Para ahli sejarah dan penulis Sirah Nabawiyah menulikan
bahwa perjalanan hidup Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam selalu
dijalani dalam keadaan sehat. Tidak ada perilaku atau kebiasaan buruk beliau yang
bersifat jelek yang kemudian hari mengakibatkan beliau terjangkiti suatu
penyakit tertentu.
Tidak pernah sekalipun kita dengar seorang ahli sejarah
menyebutkan bahwa Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam menderita sakit
diare berhari-hari karena salah makan. Atau tidak dikemukakan di dalam Sirah
Nabawiyah yang menyatakan beliau sakit karena alasan tertentu yang berasal
dari diri beliau sendiri.
Inilah yang membedakan antara Rasulullah Shalallahu
‘alaihi wasallam dengan manusia pada umumnya. Beliau memang pernah sakit,
tetapi sakitnya dikarenakan faktor eksternal, bukan faktor internal dari dalam
dirinya. Sebaliknya, bagi manusia secara umum, meraka sakit disebabkan diri
mereka sendiri. Mereka tidak bisa menjaga pola hidup sehat. Di antaranya adalah
dengan suka makan berlebih-lebihan, makan dan minum sesuatu yang haram, malas
berolahraga, suka begadang berlebihan, dan lainnya.
Cara Hemat untuk Sehat
Pada masa sekarang ini, orang-orang yang ingin sehat rela
mengeluarkan begitu banyak uang. Mereka mengusahakan kesehatan dengan berbagai
macam cara, mulai sesuatu yang bersifat pencegahan hingga menghadirkan saranan
yang bersifat pengobatan. Ada diantaranya yang membeli dan mengkonsumsi
suplemen kesehatan, multivitamin atau sekedar minuman kesehatan tradisional.
Ada pula yang memilih untuk membeli alat-alat kesehatan, sehingga dapat
dipergunakannya di rumah. Sebagian lainnya rutin melakukan fitnes, bergabung
dalam klub senam, atau mengikuti berbagai macam terapi kesehatan.
Jalan atau cara berbeda, namun tujuannya sama, yaitu
ingin merasakan kesehatan di sepannjang hidupnya. Mereka rela merogoh koceknya
dalam-dalam untuk mewujudkan tujuan tersebut. Bagi mereka, kesehatan adalah
nomor satu. Jika terpaksa “harus dibeli”, mereka membelinya.
Tak mengherankan jika ada yang berkata, “Sehat itu
mahal”. Ada benarnya pernyataan itu, meskipun nilai kebenarannya tidak bersifat
mutlak. Lantas, adakah cara menjadi sehat dengan biaya yang super hemat?
Jawabannya, ada. Percayalah!
Cara menjadi sehat dengan biaya yang super hemat adalah
dengan mencontoh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Ya, contohlah
kehidupan beliau. Bagaimanakah pola makan, pola tidur, aktivitas sehari-hari,
dan sebaginya. Hanya dengan mencontoh beliau, tidak perlu mengeluarkan banyak
biaya, tetapi cukup mempraktekkan apa yang kita contoh dari beliau dalam
kehidupan sehari-hari, niscaya kita akan mampu menjadi pribadi yang sehat
sepanjang hayat. Insya Allah.
Sumber : Disarikan dari Buku “Mengapa Nabi
Shalallahu ‘alaihi wasallam Tidak Gampang Sakit”, karya Al-Ustadz Asadullah
Al-Faruq Hafizhohullah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar