Jumat, 23 November 2012

"Tanpa Suami"

Sebuah kisah nyata menyentuh hati........

Menikah, tentu saja hal yang membahagiakan. Tapi itu jika dengan orang yang kita cinta. Tapi tidak denganku. Aku harus belajar merasa bahagia menikah dan menerima seorang pria yang sama sekali tidak kucintai. Meski aku tahu ia mencintaiku. Secara fisik, ia memang berpoint delapan, tapi secara akhlak aku tak menyukainya. Inilah alasanku tak ingin menikah dengannya. Tubuhnya penuh tato dan akhlaknya jauh dari mulia. Ayah memaksaku menerimanya agar bapak tak kehilangan pekerjaan di tempat usaha suamiku. Dan demi menyelamatkan keluargaku. Ternyata, suamiku jauh dari sosok yang ku harapkan. Inginku dulu punya suami pintar ngaji, penyayang, kerja mapan. Tapi faktanya? Sholat tak pernah, kecuali saat pengantin baru. Selama menikah, aku sering menerima siksaan fisik juga kata-kata kotor. Aku sering sedih, namun aku mencoba sabar dan tetap memperlakukannya dengan baik. Kujalani tugasku sebagai istri meski dengan hati menangis dan berharap agar semua keadaan ini berubah.
Setahun kemudian aku hamil. Kuharap kehamilan ini akan mengubah sikapnya padaku. Ternyata ia tetap tempramental. Selama hamil pertama, tak pernah ia iba atau berbelas kasih meringankan pekerjaan rumah yang menumpuk. Mertuaku yang sibuk dengan bisnisnya tak pernah peduli dengan rumah tangga kami. Sedihnya lagi, jika aku minta pulang kerumah orangtua untuk melepas kangen, aku selalu diancam suami untuk diam tak bercerita. Awalnya aku bisa diam dengan harapan ia berubah. Tapi seiring sikapnya padaku, diam-diam tanpa setahunya aku bercerita pada ibu. Ibu menangis nelangsa. Tapi ia menasihatiku untuk tetap baik dan bersabar. “Itu surgamu, anakku....”. kupeluk ibu, kucium kakinya. Aku pulang sore itu dengan kekuatan baru.
Nyaris selama awal kehamilan, aku mual dan muntah. Badan lemas dan gemetar sering menderaku. Bahkan tubuhku sering dingin menggigil. Tapi suamiku tak mau tahu. Untuk kebidan atau puskesmas aku paling pergi sendiri. Jika aku ingin sesuatu aku mencarinya sendiri dari hasil berjualan makanan kecil dan es yang aku titipkan di warung-warung. Hasilnya kusimpan sedikit demi sedikit. Uang itulah yang kupakai membeli segala kebutuhanku selama hamil, juga daster maupun persiapan baju-baju bayi.
Pernah suatu kali, aku terpeleset di kamar mandi karena tak sengaja menginjak sikat lantai. Bukannya menolong, suami malah memarahiku habis-habisan. Aku hanya menangis kesakitan. Ibu mertuaku hanya sejenak menolongku, kemudian menyarankan untuk periksa kebidan. Hanya sebatas itu, sebab aku harus periksa sendiri! Alhamdulillah kandungan yang kala itu berusia enam bulan baik-baik saja.
Aku lalui hari-hari panjang menanti kelahiran buah hati ku seorang diri. Aku sebenarnya ingin berada bersama ibuku. Saat-saat begini aku ingin menghempaskan beban batin dalam pelukannya. Ingin berbagi rasa bersama saudara-saudaraku. Setidaknya aku bisa menghibur diri diantara mereka. Sebenarnya, aku takut jika semua beban jiwa yang kupendam ini berpengaruh pada janinku. Untuk menghindari tumpukan beban batin aku selalu menyibukkan waktu luangku dengan tadarus Al Qur`an atau membawanya shalat. Namun jujur beban itu tak sepenuhnya lepas.
Mendekati kelahiran buah hatiku, aku meminta suami untuk tidak sering begadang keluar rumah. Aku takut juka tiba-tiba aku merasa akan melahirkan sementara tak ada yang mengantarku ke bidan. Namun jawaban apa yang kuterima? Ia justru mengataiku manja, cari parhatian dan segunung omelan panjang pendek. Ya Allah betapa sakitnya hatiku. Selama ini aku berusaha selalu bersikap baik dan berbakti padanya tapi ia justru memperlakukanku sebaliknya.
Akhirnya aku melahirkan seorang diri tanpa ditunggui suami, bu bidan sampai kasihan melihatku. Beruntung perutku mulas saat siang hari, jam sibuk, saat orang rumah semua beraktivitas diluar. Hanya aku seorang diri. Kutanyakan suamiku ke tetangga kiri-kanan tak ada yang tahu, jadilah aku ke bidan naik becak seorang diri. Sepanjang jalan, aku ingin menangis tapi sekuat mungkin kutahan.
Alhamdulillah, anakku lahir selamat ditunggu oleh ibu dan bapak juga adik-adikku. Bu bidan yang mengabari mereka dengan menyuruh orang. Mereka yang membantuku bergantian. Bayi kecil itu kini sudah kelas II SD, tumbuh tanpa kasih sayang bapaknya. Bahkan, suamiku pernah dua tahun tak pulang tanpa kabar. Aku pulang ke rumah orang tuaku. Sebenarnya, kala itu banyak yang ingin melamarku. Tapi kutolak. Benar saja, suatu hari suamiku tiba-tiba muncul di rumah. Tanpa dosa mengajakku pulang kerumahnya. Ternyata ia tak berubah. Hingga kumiliki tiga anak, tak satupun yang lahir ditunggui bapaknya. Sebenarnya aku ingin lari dari semua ini bila tak ingat Allah. Setidaknya, Allah selalu memberiku kekuatan melalui semua ini, juga kesehatan untukku, anak-anakku, orang tuaku yang selalu menyayangiku serta adik-adikku.
Semoga Allah menjadikan anak-anakku pribadi yang shalih dan berbakti dan tak seperti bapaknya. Aku berjuang semampuku, menjaga dan mendidik mereka agar terjaga akhlak dan sikap mereka lahir batin. Menjauhkan hal-hal buruk dari mereka, agar kelak mereka tak salah langkah.(***)

Oleh: Vicca bin ‘Adi 
Referensi: Majalah Sakinah, Volume 11, No. 4

Jumat, 09 November 2012

Kisah Para Pemuda yang Tidak Tergoda Rayuan Maut Wanita

Godaaan wanita memang nomor satu beratnya bagi laki-laki, di mana pun tempatnya dan kapan pun waktunya. Awalnya memang dari hal kecil, yakni pandangan. Mmengumbar pandangan bagai secangkir arak (tuak, minuman keras) dan ‘isyq (cinta) adalah rasa mabuk akibat minuman tersebut. Sementara, mabuk karena ‘isyq lebih hebat daripada mabuk karena khamr. Sebab, orang mabuk karena minuman keras mungkin akan sadar, tetapi mabuk karena ‘isyq amat jarang menjadi sadar kecuali ketika dia di ambang kematian.

Kisah Pemuda ‘Atha’ bin Yasar rahimahullahu

Pernah pula di kalangan tabi’in yang mengalami ujian seperti ini. ‘Atha’ bin Yasar, saudara Sulaiman bin Yasar. Dalam riwayat hidup beliau, diceritakan:
Suatu hari dia berangkat dari Madinah bersama saudaranya Sulaiman dan beberapa sahabat mereka. Kemudian mereka singgah di Abwa’ dan membuat kemah. Di daerah itu ada seorang wanita badui yang cantik jelita yang ingin menimbulkan fitnah pada ‘Atha’ bin Yasar. Maka masuklah wanita itu ke dalam tenda di saat ‘Atha’ tinggal sendirian. Ketika itu beliau sedang shalat, maka beliau pun mempercepatnya karena mengira wanita itu sedang dalam keperluan.

Setelah itu beliau bertanya kepada wanita itu: “Engkau ada keperluan?”
“Ya,” kata wanita itu.
“Apa itu?”tanya ‘Atha’.
“Bangun dan gauli saya. Saya tidak bersuami,” jawab wanita itu.
“Pergilah dari sini. Jangan kau bakar aku dan dirimu dengan api neraka,” kata ‘Atha’. Lalu mulailah beliau menangis sampai tersedu-sedu.
Melihat ‘Atha’ menangis, wanita itu tersentuh, lalu ikut pula menangis mendengar nasihat yang diucapkan ‘Atha’ tadi. Akhirnya wanita itu pun duduk menangis. Dua orang laki-laki dan perempuan itu menangis hebat. Kemudian datanglah Sulaiman bin Yasar dan melihat dua orang ini sedang menangis. Dia tidak tahu apa yang tadi terjadi. Tapi jiwanya ikut terdorong untuk menangis menyaksikan keadaan mereka berdua. Tak lama datang pula sahabat mereka lalu masuk ke dalam tenda. Mereka melihat ada seorang wanita menangis bersama ‘Atha’ dan Sulaiman yang juga menangis. Mereka pun terpengaruh, lalu ikut menangis tanpa tahu ada kejadian apa sebelum ini.
Akhirnya, semua terduduk sambil menangis tersedu-sedu. Setelah tenang, wanita itu bangkit dan pergi. Kemudian yang lain pun berdiri dan beranjak dari tempat itu. Semuanya pergi ke tempat tidurnya. Sementara Sulaiman merasa segan bertanya kepada saudaranya ada yang terjadi?
Hari-hari berlalu. Suatu ketika mereka safar ke Mesir. Pada malam harinya, di sebuah kamar, ‘Atha’ terbangun sambil menangis. Mendengar isak tangis saudaranya, Sulaiman tergugah dari tidurnya. Beliau bertanya kepada ‘Atha’: “Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai saudaraku?
Tangis ‘Atha’ semakin keras. Sulaiman kembali bertanya: “Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai saudaraku?”
“Mimpi yang baru saja kulihat malam ini,” kata ‘Atha’.
“Mimpi apa?” tanya Sulaiman. Lalu beliau terus mendesak agar ‘Atha’ menceritakannya. Maka ‘Atha’ meminta kesepakatan dan janji saudaranya untuk tidak menceritakannya selama dia masih hidup.
Kata ‘Atha’: “Aku melihat Nabi Yusuf dalam mimpiku. Mulailah aku memandang beliau. Ketika aku melihat eloknya rupa beliau, aku menangis –dalam mimpi–. Beliau pun memandangku dan berkata: ‘Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai fulan?’
Aku berkata: ‘Demi bapak dan ibuku tebusanmu, wahai Nabi Allah. Aku teringat engkau dan istri pembesar itu serta ujian yang engkau alami dengannya. Penjara yang engkau rasakan, perpisahanmu dengan Nabi Ya’qub, maka aku pun menangis karenanya’.”
Aku merasa takjub kepada beliau.
Beliau pun berkata: ‘Akulah yang mestinya takjub dengan lawan wanita badui di Abwa’ itu?’ Aku tahu apa yang beliau maksud, maka aku pun menangis dan terbangun sambil terus menangis. Kemudian ‘Atha’ rahimahullahu menceritakan pula kisahnya dengan wanita badui di Abwa.
Kisah ini disimpan oleh Sulaiman bin Yasar sampai ‘Atha’ meninggal dunia. Setelah ‘Atha’ meninggal dunia, dia pun menceritakan kisah ini hingga menjadi terkenal di Madinah.
Sulaiman bin Yasar sendiri adalah seorang yang gagah dan rupawan. Suatu hari, seorang wanita masuk ke dalam rumahnya dan merayunya agar menggauli dirinya. Tapi Sulaiman menolak. Wanita itu berkata kepadanya: “Kalau begitu aku akan mempermalukanmu.”
Akhirnya, Sulaiman melarikan diri keluar dari rumahnya, dia biarkan rumah itu untuk si wanita.

Kisah Abu Bakr Al-Miski rahimahullahu

Lain lagi dengan Abu Bakr Al-Miski. Dia digelari Al-Miski (berbau misik/minyak wangi) karena sebuah kejadian. Ada seorang wanita meminta agar Abu Bakr masuk ke dalam rumahnya. Abu Bakr adalah seorang pedagang. Maka beliau pun masuk. Ternyata wanita itu menginginkan perbuatan yang haram. Untuk itu, dia (wanita tersebut) tutup pintu rumahnya. Lalu apa yang dilakukan Abu Bakr?
Dia bekata: “Saya ingin ke kamar kecil.” Kemudian di dalam kamar mandi (WC) dia melaburi tubuhnya dengan kotoran dan keluar dari kamar mandi. Wanita itu menjauh darinya lalu membuka pintu rumahnya, akhirnya Abu Bakr pun keluar meninggalkan wanita itu. Sejak saat itulah tubuhnya berbau misik (meskipun tidak menggunakan minyak wangi). Wallahu a’lam.
Yang terakhir, jatuh cinta karena semata rupa yang elok termasuk hal-hal yang disebabkan oleh unsur kesyirikan. Semakin jauh seseorang dari keikhlasan, semakin dekat kepada kesyirikan, maka cintanya kepada rupa yang elok semakin kuat. Semakin kuat tauhid dan keikhlasan seseorang semakin jauh dia dari godaan rupa yang elok. Kenyataan inilah yang menjerumuskan istri pembesar kepada apa yang diceritakan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu syirik yang ada padanya. Sedangkan Nabi Yusuf q selamat dari perbuatan tersebut karena keikhlasannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ
“Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (Yusuf: 24)
Kata السُّوءَ (kemungkaran) di sini bermakna al-’isyq (cinta) sedangkan الْفَحْشَاءَ (kekejian) adalah perbuatan zina. Orang yang mukhlash ialah orang yang memurnikan cintanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala pun membersihkannya dari fitnah ‘isyq terhadap rupa. Dan orang yang musyrik, hatinya terpaut kepada sesuatu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak membersihkan tauhid dan cintanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahul Muwaffiq.
(Sumber: asysyariah.com)

Menjadi Sehat dengan Mencontoh Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam (Bag. 2)

Pada artikel bagian pertama telah kita ketahui bagaimana “Konsep Sehat Menurut Islam”, disana disebutkan secara gamblang dan jelas bahwa Islam sangat perhatian terhadap yang namanya kesehatan kita sebagai manusia. Dimana kami kutip kembali perkataan Imam Asy-Syathibi rahimahullah, “Tujuan kehadiran agama Islam dalam rangka menjaga agama, jiwa, akal, jasmani, harta dan keturunan. Setiap usaha dalam rangka memenuhi lima hal tersebut, walaupun tidak disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, dapat dibenarkan dalam ajaran Islam.”
Kemudian yang akan kami sampaikan dalam artikel bagian kedua kali ini adalah sebagai inti dari pembahasan kita, yaitu “Menjadi Sehat dengan Mencontoh Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam”.

Pernahkah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam Sakit?
Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam, selain sebagai seorang nabi dan rasul Allah, beliau juga menyandang sebagai seorang manusia. Artinya, antara satu manusia dengan lainnya adalah sama, yaitu sama-sama sebagai makhluk yang lemah, tidak kebal terhadap penyakit, dan sangat memungkinkan merasakan sakit. Begitulah seharusnya, sebuah sunnatullah yang umum ada pada diri setiap manusia.
Membuka kembali lembaran sejarah kehidupan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam akan membuat kita menemukan sebuah fakta yang luar biasa. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam seorang manusia yang dalam perjalanan hidupnya hampir tidak pernah sakit. Atau dengan kata lain beliau selalu dalam keadaan sehat.
Bila mau diungkapkan secara tepat, sejarah mengemukakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam setidaknya pernah tiga kali mengalami sakit. Sakit yang dialami beliau bukan karena kecerobohan atau kelalaian beliau dalam menjaga kesehatan, tetapi dikarenakan faktor eksternal yang menjadi penyebabnya.
Ketiga peristiwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah mengalami sakit adalah:
1.      Disihir oleh seorang laki-laki Yahudi bernama Labid bin A’sham. Beliau disihir menggunakan media gigi sihir, rambut dan kulit pelepah kurma. Efek dari sihir ini adalah beliau merasa telah makan, minum dan mendatangi istrinya, padahal semua itu belum dilakukannya.
2.      Diracun wanita Yahudi bernama Zainab binti Harits. Wanita itu membubuhkan racun Labithi pada daging kambing yang hendak disajikan untuk Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat Radhiyallahu ‘anhum. Racun bekerja selama empat tahun dengan efek berupa urat nadi terasa putus, sakit kepala, batuk dan panas. Namun demikian, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mampu menahannya dan berbagai macam aktivitas yang dilakukan beliau tidak terganggu oleh racun tersebut.
3.      Rasa sakit lainnya yang pernah dialami Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah terluka karena berperang. Banyak peperangan yang dikuti oleh beliau di masa hidupnya dan menghadirkan tidak sedikit luka di tubuh beliau. Dan perlu pahami bahwa luka juga merupakan bagian dari sakit.

Ketiga peristiwa sakit tersebut membuktikan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memang benar-benar sebagai seorang manusia biasa, sehingga berlaku sunnatullah bahwa manusia dapat merasakan sakit. Begitulah Rasulullah, sebagai manusia, beliau juga pernah merasakan sakit.
Bukan Karena Kesalahan Pribadi
            Sakit yang pernah dialami oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, bila kita menganalisanya, sebuah kesimpulan dapat dihadirkan. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengalami sakit, baik itu disihir, diracuni atau luka-luka akibat berperang adalah dikarenakan faktor eksternal. Faktor dari luar pribadi beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam. Dengan kata lain, sakit yang dialami beliau bukan karena kecerobohan diri beliau dalam menjaga kesehatan.
            Para ahli sejarah dan penulis Sirah Nabawiyah menulikan bahwa perjalanan hidup Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam selalu dijalani dalam keadaan sehat. Tidak ada perilaku atau kebiasaan buruk beliau yang bersifat jelek yang kemudian hari mengakibatkan beliau terjangkiti suatu penyakit tertentu.
            Tidak pernah sekalipun kita dengar seorang ahli sejarah menyebutkan bahwa Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam menderita sakit diare berhari-hari karena salah makan. Atau tidak dikemukakan di dalam Sirah Nabawiyah yang menyatakan beliau sakit karena alasan tertentu yang berasal dari diri beliau sendiri.
            Inilah yang membedakan antara Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan manusia pada umumnya. Beliau memang pernah sakit, tetapi sakitnya dikarenakan faktor eksternal, bukan faktor internal dari dalam dirinya. Sebaliknya, bagi manusia secara umum, meraka sakit disebabkan diri mereka sendiri. Mereka tidak bisa menjaga pola hidup sehat. Di antaranya adalah dengan suka makan berlebih-lebihan, makan dan minum sesuatu yang haram, malas berolahraga, suka begadang berlebihan, dan lainnya.
Cara Hemat untuk Sehat
            Pada masa sekarang ini, orang-orang yang ingin sehat rela mengeluarkan begitu banyak uang. Mereka mengusahakan kesehatan dengan berbagai macam cara, mulai sesuatu yang bersifat pencegahan hingga menghadirkan saranan yang bersifat pengobatan. Ada diantaranya yang membeli dan mengkonsumsi suplemen kesehatan, multivitamin atau sekedar minuman kesehatan tradisional. Ada pula yang memilih untuk membeli alat-alat kesehatan, sehingga dapat dipergunakannya di rumah. Sebagian lainnya rutin melakukan fitnes, bergabung dalam klub senam, atau mengikuti berbagai macam terapi kesehatan.
            Jalan atau cara berbeda, namun tujuannya sama, yaitu ingin merasakan kesehatan di sepannjang hidupnya. Mereka rela merogoh koceknya dalam-dalam untuk mewujudkan tujuan tersebut. Bagi mereka, kesehatan adalah nomor satu. Jika terpaksa “harus dibeli”, mereka membelinya.
            Tak mengherankan jika ada yang berkata, “Sehat itu mahal”. Ada benarnya pernyataan itu, meskipun nilai kebenarannya tidak bersifat mutlak. Lantas, adakah cara menjadi sehat dengan biaya yang super hemat? Jawabannya, ada. Percayalah!
            Cara menjadi sehat dengan biaya yang super hemat adalah dengan mencontoh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Ya, contohlah kehidupan beliau. Bagaimanakah pola makan, pola tidur, aktivitas sehari-hari, dan sebaginya. Hanya dengan mencontoh beliau, tidak perlu mengeluarkan banyak biaya, tetapi cukup mempraktekkan apa yang kita contoh dari beliau dalam kehidupan sehari-hari, niscaya kita akan mampu menjadi pribadi yang sehat sepanjang hayat. Insya Allah.
Sumber : Disarikan dari Buku “Mengapa Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam Tidak Gampang Sakit”, karya Al-Ustadz Asadullah Al-Faruq Hafizhohullah       

Selasa, 23 Oktober 2012

Menjadi Sehat dengan Mencontoh Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam (Bag. 1)

“Konsep Sehat Menurut Islam”
Oleh: Vicca Oxy Abu Abdil Aziz Lumajang

Alhamdulillah, segala puji dan syukur bagi Allah yang memberi setiap hamba-Nya kenikmatan yang tiada terbilang. Dan di antara nikmat yang diberikan-Nya, adalah nikmat sehat yang merupakan nikmat terbesar dalam kehidupan kita di dunia, dan nikmat Islam sebagai kenikmatan teragung bagi kehidupan kita di akhirat.

Berbicara mengenai kesehatan, Islam sebagai agama yang sempurna telah mengatur banyak tentangnya. Kesehatan merupakan salah satu nikmat Allah yang harus kita syukuri. Dalam Islam kesehatan mendapatkan perhatian yang begitu penting. Karena dengan sehat manusia dapat beraktivitas dan beribadah. Inilah salah satu dari tujuan Islam, menjaga kesehatan manusia baik kesehatan jiwa, akal maupun jasmani.

Imam Al-Syathibi rahimahullah dalam kitabnya ‘Fi Ushul Al-Ahkam’ mengatakan: “Tujuan kehadiran agama Islam dalam rangka menjaga agama, jiwa, akal, jasmani, harta dan keturunan. Setiap usaha dalam rangka memenuhi lima hal tersebut, walaupun tidak disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunah, dapat dibenarkan dalam ajaran Islam.”
Guna melaksanakan lima tujuan Islam tersebut, kesehatan memegang peranan penting. Tanpa adanya kondisi sehat dalam badan, berbagai upaya untuk memenuhi kewajiban pokok akan sulit dilaksanakan. Oleh karena itu, Islam menekankan pentingnya kesehatan. Dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa kesehatan merupakan modal pokok dan utama dalam mencapai tujuan agama. Tujuan Islam mengajarkan hidup sehat adalah dalam rangka menciptakan individu dan masyarakat yang sehat jasmani, rohani dan sosial sehingga umat Islam mampu menjadi umat pilihan.

Apa itu sehat? Sehat menurut World Health Organization (WHO) adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Menurut Islam, seseorang dikatakan sehat apabila memenuhi tiga unsur. Yaitu kesehatan jasmani (nafs), Kesehatan ruhani (ruh), dan Kesehatan sosial. Kesehatan jasmani merupakan bentuk dari keseimbangan manusia dan alam. Kesehatan ruhani maknanya ada keseimbangan dan hubungan yang baik secara spiritual antara khaliq (pencipta) dan makhluk, yang diwujudkan dari aktivitas makhluk dalam memenuhi semua perintah Khaliq. Kesehatan sosial adalah kesehatan dalam wujud keharmonisan antara sebuah individu dengan individu lain maupun dengan sistem yang berlaku di masyarakat. Bila ketiga unsur ini terpenuhi maka akan tercipta sebuah keadaan yang sempurna, baik secara fisik, mental, maupun spiritual.

    Dalam pengertian yang paling luas, sehat merupakan suatu keadaan yang dinamis sehingga individu menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan internal (psikologis, intelektual, spriritual dan penyakit) dan eksternal (lingkungan fisik, sosial, dan ekonomi) dalam mempertahankan kesehatannya.

     ‘Ala kulli hal, semua aspek untuk menuju sehat telah ada dan diatur Islam. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam juga telah memberikan tekhnis meraih dan menjaga kesehatan, baik sehat dalam pengertian jasadiah, ruhaniah, fikriah maupun sehat dalam makna yang lebih luas, seperti sehat ekonomi dan sosial.

     Sejarah telah mengungkapkan bahwa masa hidup Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam merupakan masa yang sangat mulia. Beliau tidak pernah mengalami sakit, kecuali sakit karena faktor eksternal. Pola hidup yang beliau praktekkan mengajarkan kaum muslimin agar mengikuti sunnah beliau. Pada kenyataannya, apa yang beliau kerjakan dalam kesehariannya, kini telah diakui oleh ilmu pengetahuan modern melalui berbagai penelitian ilmiah. 

   Maka dari itu dalam tulisan ini selanjutnya insya Allah kita akan mengungkap, mengapa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah sakit? Bagaimana pola hidup Beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam keseharian, sehingga mampu menjadikan beliau sebagai pribadi yang sehat dan tidak mengenal sakit? Dan bagaimana seharusnya upaya kaum muslimin di masa kini dalam menjaga kesehatannya? Nantikan posting dari tulisan kami selanjutnya. Wallahu a’lam.

Bersambung Insya Allah....
Sumber : Disarikan dari Buku “Mengapa Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam Tidak Gampang Sakit”, karya Al-Ustadz Asadullah Al-Faruq Hafizhohullah



“أحب الناس إلى الله  أنفعهم للناس”
“Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain”

Jumat, 29 Juni 2012

Kupotret Rindu yang Tak Bertunas

 Harus jujur kuakui, sulit bagiku tuk definisikan kata rindu. Namun kuserahkan saja jemariku menari untuk menyulam beberapa kalimat agar mengungkapkan apa yang kuketahui tentang rindu itu sendiri.

Siapapun berhak memberikan pandangan tentang rindu. Aku berpikir, kata rindu itu sendiri bersifat umum. Dan akan benar-benar bermakna serta bersifat khusus sekiranya disertai obyek yang dirindu. Obyek tersebut bisa nyata ataupun abstrak tergantung subyek atau sosok yang sedang merindu.

Tak salah pula sekiranya kututurkan bahwa rindu adalah sebuah kata kerja bagi hati. Ia bukanlah kata kerja bagi anggota badan yang walaupun anggota badan kerap kali tergerak untuk melakukan sesuatu sebagai respon dari rindu itu sendiri..

Rasanya sulit jua bagiku memandang rindu sebagai sebuah “penyakit”. Namun begitu, tak mudah pula kupandang rindu sebagai reaksi jiwa yang “sehat”. Bagaimana tak kuucap demikian, cobalah engkau rasakan atau bisa jadi detik ini sedang engkau rasakan letupan-letupan rindu yang bergejolak.


Percikan Rindu Di Sudut Hati
Awalnya, rindu mungkin masih tak “liar” dan sedang terlelap nyenyak di sudut ruang hati. Seiring detik berdetak, pemiliknya sering tak tersadar, angin sejuk dari manakah yang jadikan rindu itu terbangun. Tak pula diketahui, mimpi manakah yang jadikan rindu itu tiba-tiba terjaga.

Seiring waktu pula, rindu semakin bereaksi dan “mengamuk” serta berkecamuk hebat di hati. Pada saat yang sama, terbisiklah telinga untuk segera mendengar hal-hal yang rindu inginkan. Tersapalah lidah untuk berbicara. Terayulah mata untuk memandang. Tergodalah jiwa tuk rasakan hal-hal yang ingin dikenang.


Obati Rindu

Saat-saat seperti itulah kukatakan rindu sebagai “penyakit”. Walau tak bersifat medis, ia pula terkadang timbulkan gejala-gejala lain yang menyebabkan si empunya terbaring sakit. Karena itu, sudah seharusnya rindu itu diobati. Dan hanya perjumpaanlah yang menjadi penawar sekaligus obat utamanya.


Potret-potret Rindu

Ada banyak potret-potret kerinduan yang bertaburan dalam kehidupan. Siapa yang tak pernah merindu, bisa dipastikan tak ada cinta yang ia semburatkan karena rindu tumbuh seiring suburnya tunas-tunas cinta.

***

Dulu, ketika engkau bayi dan ditinggal sebentar sang ibu, tangisanmu langsung meledak dan serpihannya menusuk hati sang ibu. Terkumpul bermacam rindu darimu untuk ibu. Kau rindukan air susunya. Kau rindukan pelukan hangatnya. Kau rindukan suaranya. Kau rindukan belaian sayangnya.
Begitu pun sang ibu, pada saat yang sama, ia rindukan imut wajahmu. Ia rindukan candaanmu. Ia rindukan segalanya yang ada padamu.

***
Mari sejenak intip sang ayah yang sedang bekerja seharian di luar rumah. Di tengah fokusnya menyelesaikan tugas, rindu pun datang bertandang. Ia rindukan anak dan istri di rumah. Ia rindukan canda si kecil di beranda. Ia rindukan sentuhan lembut kekasih hati. Ia rindukan racikan masakan kesukaan yang selalu terhidang. Hati begitu ingin cepat pulang.

***
Seorang wanita pun begitu sensitif disapa oleh rindu. Karena tak tundukan pandangan atau tak menjaga etika syari bermu’amalah, wajah seorang laki-laki pun berhasil terekam melalui mata kemudian ditransfer dan tersimpan dalam pikirannya. Lelaki itu miliki titik-titik pesona dan mampu ditangkap sang wanita.
Itulah yang menjadikan sang wanita terbalut rindu penuh harap dalam alam lamunannya. rindu menjadikan telaga air matanya bergelombang riuh hingga terbulir bening bak kristal menyusuri pipi.


***
Terlebih lagi bagi mereka baik laki-laki maupun wanita yang diberikan hidayah oleh Allah untuk lepas dari hubungan tak jelas dan haram yang bernama pacaran. Datanglah rindu mencandai dua insan itu. Mereka kenang masa-masa “indah” yang telah berlalu. Syaitan pun beraksi untuk mengikis hidayah yang telah mereka raih. Ujung-ujungnya, kembali mereka jalin jalinan hingga dosa-dosa maksiat kembali tertabung.


***
Dan beberapa hari lagi, salah satu kerinduan orang-orang beriman akan terobati dengan datangnya bulan Ramadhan. Tamu agung yang dinanti-nanti. Di bulan itulah orang-orang beriman menabung limpahan pahala dengan memperbaiki kualitas dan kuantitas amal. Mendekati hari pertama puasa, rindu mereka memuncak. Sebelas bulan sudah berlalu dan pada saat itu mereka rindukan nikmatnya beribadah, mereka rindukan suasana berbuka puasa, mereka rindukan suasana sahur penuh berkah, dan pula, mereka rindukan tetesan-tetesan air mata kala berdoa dan bersujud di hadapan ar-rahman. ..


Baiklah, kutitip rindu buat anda semua. Semoga kan kita bersua di taman-taman surga. Amiin ya mustajiba sa ilin.

Penulis: Fachrian Almer Akiera
Artikel www.remajaislam.com
Hamba Allah 'Azza wa Jalla yang faqir yang ingin berbagi

Cenderung Cinta Padanya

Untuk membuat seseorang akan tertarik pada kita, caranya adalah dengan mencari perhatiannya. Berbuatlah baik padanya, maka ia pun akan merasa diberi hati. Sehingga ia akan semakin lekat dan semakin menempel. Namun maksud tulisan ini bukanlah sebagai tips untuk muda-mudi yang hatinya sedang berbunga-bunga dengan kekasihnya. Tidak sama sekali, karena pacaran adalah jalan menuju zina dan jelas haramnya. Yang kami jelaskan di sini adalah tabiat hati yang cenderung akan menyukai orang yang berbuat baik padanya. Dan yang lebih terpenting adalah jika kecintaan tersebut dilandaskan cinta karena Allah.

Cenderung Cinta Padanya
Dalam sebuah atsar disebutkan,
جبلت القلوب على حب من أحسن إليها وبغض من أساء إليها
“Tabiat hati adalah cenderung mencintai orang yang berbuat baik padanya dan membenci orang yang berbuat jelek padanya.” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 6: 2985, Abu Nu’aim dalam Al Hilyah 4: 131, Al Jami’ Ash Shogir 3580. As Suyuthi mengatakan hadits ini dho’if). Walaupun hadits ini dho’if, namun maknanya tepat dan benar.

Cintailah Karena Allah
Kecintaan seseorang pada orang yang suka berbuat baik padanya, itu memang boleh. Namun hendaklah kecintaan tersebut dibangun di atas kecintaan karena Allah. Artinya, standar kecintaan pada saudaranya seimbang dengan ketaatan saudaranya pada Allah. Jika saudaranya termasuk kalangan orang sholeh dan bertakwa, ia akan semakin cinta. Sebaliknya, cintanya akan semakin berkurang pada yang suka berbuat maksiat dan durhaka. Inilah maksud kecintaan karena Allah. Berarti kecintaan seseorang yang mencintai karena Allah akan berbeda pada pecandu rokok dan pada pemuda yang lisannya tidak pernah lepas dari dzikir. Kecintaan karena Allah itulah yang menuai kelezatan dan manisnya iman.
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ
“Tiga perkara yang seseorang akan merasakan manisnya iman : [1] ia lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari yang lainnya, [2] ia mencintai seseorang hanya karena Allah, [3] ia benci untuk kembali pada kekufuran sebagaimana ia benci bila dilemparkan dalam neraka.”  (HR. Bukhari no. 6941 dan Muslim no. 43)
Begitu juga dalam hadits dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan mengenai tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari yang tiada naungan selain dari-Nya. Di antara golongan tersebut adalah,
وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِى اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ
“Dua orang yang saling mencintai karena Allah. Mereka berkumpul dan berpisah dengan sebab cinta karena Allah.” (HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031)
Begitu pula dalam hadits Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ الْحُبُّ فِى اللَّهِ وَالْبُغْضُ فِى اللَّهِ
“Sesungguhnya amalan yang lebih dicintai Allah ‘azza wa jalla adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Ahmad 5: 146 dan Abu Daud no. 4599. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirih, dilihat dari jalur lain)

Akan Dikumpulkan Bersama Orang yang Dicintai
Inilah di antara faedah besar seseorang mencintai saudaranya karena Allah atau termasuk dalam hal ini adalah mencintai Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”Orang tersebut menjawab, “Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari no. 6171 dan Muslim no. 2639)
Dalam riwayat lain, Anas mengatakan, “Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”Anas pun mengatakan, “Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.” (HR. Bukhari no. 3688)
Dalam riwayat Tirmidzi disebutkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ وَأَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai. Dan engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” (HR. Tirmidzi no. 2385. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Ibnu Hajar berkata, “Maksud ‘sesungguhnya engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai’ adalah engkau akan didekatkan dengan mereka, begitu pula hal ini termasuk dalam golongan yang ia cintai. Bagaimana jika kedudukan di surga di antara mereka bertingkat-tingkat derajat? Apakah masih tetap dikatakan bersama? Jawabnya, tetap masih disebut bersama. Selama masih ada kesamaan, seperti sama-sama masuk surga, maka itu pun disebut bersama. Jadi tidak mesti bersama dalam segala sisi. Jika semuanya tadi masuk surga, itu sudah disebut bersama walau berbeda-beda derajat.” (Fathul Bari, 10: 555)

Kecintaan yang Mubah
Kecintaan biasa yang sifatnya mubah (baca: boleh-boleh saja) tidak menyebabkan kecintaan tersebut terbawa sampai akhirat. Derajat mereka akan tergantung pada amalnya dan sesuai karunia Allah Ta’ala. Patut direnungkan firman Allah Ta’ala,
وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا
“Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya.” (QS. Thoha: 112)
Intinya kecintaan yang bermanfaat adalah kecintaan karena Allah sebagaimana firman Allah Ta’ala,
الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az Zukhruf: 67)[1]
Ya Allah, tumbuhkanlah rasa cinta kami terhadap sesama yang dilandasi kecintaan karena-Mu. Aamiin Ya Mujibbas Saa-ilin.

@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 13 Muharram 1433 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.remajaislam.com
Hamba Allah 'Azza wa Jalla yang faqir yang ingin berbagi

Amalan Nishfu Sya'ban

Assalamu alaikum,

Kaum muslimin yang budiman,
Puji syukur kita haturkan ke hadirat Allah, sampai detik ini kita masih dikumpulkan bersama barisan orang-orang yang beriman.

Perkenankan kami untuk mengingatkan anda, saat ini kita telah memasuki bulan Sya'ban. Satu bulan mendatang, kita akan berjumpa dengan bulan rahmat, bulan Ramadhan nan penuh berkah. Tidak ada pesan mulia yang bisa kami sampaikan, selain ajakan untuk mempersiapkan jiwa dan raga dalam rangka menyambut Ramadhan.

Selanjutnya, perkenankan kami untuk berbagi informasi kepada anda mengenai amalan sunah di bulan Sya'ban. Barangkali anda sudah mendapatkan banyak sms dan sumber info lainnya tentang amalan bulan sya'ban, namun bisa jadi apa yang kami sampaikan berbeda dengan sumber lainnya. Ya, karena kami menjamin bahwa amalan sunah dalam artikel berikut, betul-betul memiliki landasan yang shahih dari ajaran Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Rabu, 20 Juni 2012

عبدالولي الاركاني الفاتحه والبقره بنفس واحد

Membaca Al-Fatihah- Al-Baqoroh dengan 1 nafas.

Masya Allah, Apakah kamu bisa?

Hamba Allah 'Azza wa Jalla yang faqir yang ingin berbagi

Kedudukan Ahlul Bait

Para pembaca yang mulia, semoga taufik dan hidayah Allah selalu mengiringi kita, ketahuilah bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah suri teladan terbaik bagi kita semua. Tiada jalan kebaikan melainkan yang diajarkan oleh beliau dan tiada pula jalan kesesatan melainkan yang diperingatkan oleh beliau. Setiap pribadi muslim wajib mencintai dan menaati beliau dalam semua aspek kehidupan ini.
Di antara bentuk kecintaan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah mencintai orang-orang dekat beliau. Mereka adalah para shahabat beliau yang dengan setia sehidup dan semati membela beliau menegakkan agama Allah. Demikian pula ahlul bait (keluarga beliau) yang merupakan bagian dari diri beliau. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتيِ
“Aku ingatkan kalian dengan nama Allah untuk selalu berbuat baik kepada ahlul baitku.” HR. Muslim 

The Best Stories "Kilas Balik dari Kisah PERANG YARMUK"

Buletin Islam AL ILMU Edisi: 19/V/VIII/1431
Sejarah kejayaan Islam tak lepas dari amalan jihad yang diperani oleh para pendahulu umat ini. Jihad memiliki kedudukan mulia di dalam Islam. Tentunya, diatas ketentuan yang telah digariskan Allah  dan Rasul-Nya . Bukan aksi teror yang muncul dari semangat tanpa ilmu. Tulisan berikut ini adalah memaparkan gambaran jihad fii sabilillaah di masa Khalifah Abu Bakr Ash-Shiddiq .

Seusai memulihkan kondisi jazirah ’Arab, dengan memerangi kaum murtad dan orang-orang yang menolak membayar zakat, Abu Bakr  berusaha keras memobilisasi pasukan Islam dalam upaya menaklukkan negeri Syam yang termasuk daerah teritorial kerajaan Romawi.

Keadaan Romawi sebelum Peperangan
Ketika pasukan Islam bergerak menuju Syam, tentara Romawi merasa terkejut dan sangat takut. Dengan serta-merta mereka mengirimkan surat yang memberitahukan akan hal tersebut kepada Heraklius, raja Romawi yang berada di Himsh (sekarang dikenal dengan Homs –red). Dia pun melayangkan surat balasan yang berbunyi, ”Celaka kalian! Sesungguhnya mereka adalah pemeluk agama baru. Tidak ada yang bisa mengalahkan mereka. Patuhilah aku, dan berdamailah dengan menyerahkan setengah penghasilan bumi Syam! Bukankah kalian masih memiliki pegunungan Romawi?! Jika kalian tidak mematuhi perintahku, niscaya mereka akan merampas negeri Syam dan akan memojokkan kalian hingga terjepit di pegunungan Romawi.”

Download "Ringkasan Pengantar Kajian Sastra"

Bismillah.
Assalamualaikum,

Kepada Ikhwati fillahi baarokallahufiikum

berikut ini file pdf dari ringkasan mata kuliah Pengantar
Kajian Sastra, semoga bermanfaat.

Silahkan download disini 
Jazakumullah khairan wa baarokallahu fiikum

Hamba Allah 'Azza wa Jalla yang faqir yang ingin berbagi

Kamis, 14 Juni 2012

Mencontek Jalan Pintas Menuju Suksess????????

Dewasa ini keadaan pelajar bangsa ini sungguh memprihatinkan. Hal ini disebabkan dikalangan pelajar kebanyakan telah terjangkiti oleh virus yang sangat mematikan karakter mereka. Virus tersebut merupakan virus MCTK (hualah rumus kimianya jelek bgt ... ketauan ngarangnya he....)

Mencontek / plagiatisme merupakan perbuatan curang yang dilakukan oleh para tholib (penuntut ilmu) saat mengerjakan tugas, ulangan dari mudarris (guru, dosen) yang dilakukan dengan tujuan mendapatkan nilai yang bagus.

Rabu, 13 Juni 2012

Tips: Teknik Cara Meningkatkan Daya Ingat, Harus dicoba

Daya ingat seseorang akan melemah seiring perjalanan usia orang tersebut. Semakin bertambah usia seseorang maka daya ingatnya pun semakin menurun. Banyak suplemen atau obat-obatan yang dikeluarkan sebagai pembantu daya ingat manusia. Tapi apakah dengan mengkonsumsi obat-obatan kimia tersebut tidak berakibat effect samping nantinya? Saya kira segala obat kimia yang secara terus menerus di konsumsi akan mempunyai effect samping yang tidak baik. Lalu bagaimana memaksimalkan otak kita agar daya ingat lebih kuat?

Baiklah, saya ingin mengadakan percobaan kecil untuk mengetahui daya ingat Anda. Lakukan percobaan kecil ini dengan serius. Apakah anda siap? Kalau ya, coba anda hapalkan kata-kata di bawah ini dalam waktu 90 detik! Yang harus anda hapalkan adalah kata-kata itu dan juga urutannya. Urutan kata tidak boleh terbalik. Sekarang siapkan jam anda. Lihat jam dan… mulai…

TIPS BELAJAR SKS yang EFEKTIF


Belajar dengan cara SKS alias Sistem Kebut Semalam??? Kan ga ideal? Emang... Trus gimana donkz klo kondisi and situasi menuntut kita harus belajar secara SKS? kita kan organisatoris....
klo belajar seminggu sebelum ujian ntar waktu ujian malah lupa, gimana donkz?
Berarti kita harus tahu gimana caranya belajar SKS tapi hasilnya tetep OK.
                            
Waktu
  • Walupun SKS sebaiknya jangan sehari sebelum ujian baru buka diktat or buku catatan, at least 2 ato 3 hari sebelumnya kita sudah buka-buka trus baca dikit-dikit. Daripada bengong atawa nonton acara TV yang tidak bermanfaat, mending belajar to? Karena dikhawatirkan saat semalam sebelum ujian kita malah tertidur akibat terlalu stres.
  • Jangan belajar sampai terlalu larut. Untuk itu pelajari dulu materi-materi yang sering dibahas dosen di kelas. Dosen pada umunya membuat soal dari materi yang beliau ingat alias yang sering diomongin. Slide mungkin bisa jadi pilihan bagus untuk didahulukan daripada diktat.
  • Belajar terlalu larut apalagi begadang sampai pagi bisa menyebabkan kita terkantuk saat ujian. Coba pikirkan, bagaimana seandainya soal ujian yang susah ditambah rasa kantuk yang menyerang saat ujian? Tentu akan membuat situasi makin kacau.

Selasa, 12 Juni 2012

Tips Manajemen Waktu

Waktu begitu berharga bagi seorang remaja muslim. Dapat dilihat, kebanyakan kita kurang dapat memenej waktu dengan baik. Akhirnya, semua tugas jadi tertunda dan tertunda. Jadinya menumpuk dan urusan yang lebih urgent jadi terbengkalai. Berikut ada tips bagus yang bermanfaat bagi kita untuk memenej waktu.

1. Use a To Do List
Buat daftar kegiatan yang harus kamu lakukan. Tidak hanya sebagai pengingat tapi juga sebagai alat agar kita bisa mengatur waktu kapan harus selesai dan berapa lama kegiatan itu dikerjakan